Pendahuluan
A. Latar Belakang Masalah
Guru yang memiliki wawasan pengetahuan, keterampilan dan kreativitas dalam meramu strategi cenderung mampu mengeliminasi penghambat keberhasilan belajar. Sikap profesional guru yang tercermin oleh kompetensi guru perlu dipersiapkan dan ditingkatkan terus menerus. Begitu pula halnya dengan pendidikan pada anak usia dini (PAUD) yang semakin dituntut untuk semakin berkualitas. Hal ini sejalan dengan kebijakan kementrian pendidikan nasional. Percepatan dan perluasan layanan pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) merupakan salah satu kebijakan strategis yang digulirkan Kementrian Pendidikan Nasional. Sejalan dengan kebijakan tersebut, penambahan dan peningkatan kompetensi dan kapasitas pendidik PAUD menjadi tuntutan yang tidak dapat diabaikan.
Hal ini merupakan tantangan bagi seorang penilik sebagai pengendali mutu sehingga fungsi dan kinerja penilik merupakan salah satu komponen yang memiliki kontribusi positif dalam peningkatan kualitas pendidikan pada program Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD). Menurut Peraturan Menteri Pemberdayaan Aparatur Negara Reformasi Birokrasi nomor 14 tahun 2010. Penilik memiliki tugas utama melakukan kegiatan pengendalian mutu dan evaluasi dampak program Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), pendidikan kesetaraan dan keaksaraan, serta kursus pada jalur pendidikan Non formal dan Informal (PNFI).
Berdasarkan ketentuan tersebut tugas penilik di era sekarang menjadi lebih berat, penilik harus mampu memotret mutu satuan pendidikan non formal dan informal dan bahkan mampu melakukan pengendalian mutu yang dilakukan dengan cara : (1) perencanaan program pengendalian mutu PNFI; (2) Pelaksanaan pemantauan program PNFI; (3) Pelaksanaan Penilaian Program PNFI; (4) Pelaksanaan Pembimbingan dan pembinaan kepada pendidik dan tenaga kependidikan pada satuan PNFI; dan (5) penyusunan laporan hasil pengendalian mutu PNFI. Tugas-tugas tersebut menuntut kompetensi penilik sebagai seorang evaluator sekaligus supervisor dan juga pembimbing.
Akhmad Solihin 08.50.00 PAUD Anakbermainbelajar Indonesia
Strategi Icare di PKG PAUD
PAUD-Anakbermainbelajar----Dalam perkembangan terakhir pendidikan kita khususnya di masa-masa pandemi, di akhir tahun 2021 dunia pendidikan di Indonesia telah dihebohkan dengan diterapkannya kurikulum baru untuk tahun 2022, yang disebut-sebut dengan nama kurikulum prototipe 2022. Banyak yang menyangka kurikulum ini mendadak sifatnya, tetapi, kenyataannya kurikulum ini memang telah cukup lama dipersiapkan dari beberapa tahun yang lalu, yang mana kurikulum ini untuk diimplementasikan pada program sekolah penggerak.
Untuk level Taman Kanak-kanak (TK) dan PAUD. Pada pendekatan pembelajaran yang awalnya berbasis tema pada kurikulum 2013 berubah menjadi fokus literasi (buku yang digemari anak-anak) pada kurikulum prototipe 2022.
Berikut bahan belajar dan buku panduan untuk guru dalam kegiatan Belajar dan bermain berbasis buku. Buku Panduan Guru Belajar dan Bermain Berbasis Buku untuk Satuan PAUD ini adalah petunjuk praktis untuk guru dalam memanfaatkan buku sebagai sumber belajar dan bermain bersama anak. Buku ini memandu guru secara sistematis dan menyenangkan dalam menghadirkan buku pada keseharian anak.
Pada buku tersebut terdapat beberapa gambar penanda sebagai berikut untuk mewakili capaian pembelajaran yang diturunkan menjadi tujuan pembelajaran untuk masing-masing kegiatan belajar dan bermain berbasis buku.
Download Buku Panduan Guru Belajar dan Bermain Berbasis Buku di sini !!
Disarankan mendownload menggunakan Komputer PC atau laptop.....
BUKU PANDUAN BELAJAR DAN BERMAIN BERBASIS BUKU PAUD KURIKULUM PROTOTIPE 2022
Bagaimana konsekuensinya dan apa saja langkah-langkah yang harus dilakukan dalam kegiatan proses belajar mengajar di sekolah, serta langkah-langkah apa saja yang perlu dipersiapkan guru dalam proses mendidik peserta didik/siswa di satuan pendidikan yang bersangkutan.
Sebelumnya kita melihat kembali bagaimana paparan singkat Mendikbudristek Nadim Makarim tentang kurikulum 2022. pada tahun 2021 yang lalu:
Kurikulum prototipe 2022 memang menjadi berita terbaru dalam dunia pendidikan di Indonesia, dengan adanya kabar penerapan kebijakan kurikulum 2022 yaitu kurikulum prototipe sebagai solusi untuk menangani pemulihan pendidikan disaat learning loss yang gawat darurat seperti saat pandemi sekarang ini.
Pertanyaannya apakah kurikulum 2022 wajib diterapkan diseluruh satuan pendidikan diberbagai tingkatan. Mendikbudristek Nadim Makarim juga mengungkapkan :
"kita akan melakukan learning recovery dari pada adanya learning loss yang sangat gawat darurat ini. Kita tidak akan melakukan pemaksaan apapun dalam bentuk kurikulum. Kurikulum ini hanya akan diterapkan kepada sekolah yang mau dan siap untuk menerapkan kurikulum baru. Jadi sekolah tidak perlu khawatir kami menyerahkan seluruh keputusannya kepada sekolah untuk menerapkan kurikulum prototipe sebagai opsi."
Dari pernyataan Mendikbudristek Nadim Makarim tersebut disimpulkan bahwa kurikulum prototipe hanya diterapkan untuk sekolah atau satuan pendidikan yang siap menerapkan secara nyata dari konsep merdeka belajar dan profil pelajar pancasila, karena memang jika dipelajari lebih lanjut, kurikulum 2022 ini atau yang disebut kurikulum prototipe ini sangat memberikan kemerdekaan belajar kepada guru untuk mendesain pembelajaran hingga menerapkan tujuan pembelajarannya.
Mungkin sebagian guru dan pendidik bertanya-tanya mengapa tidak diwajibkan untuk semua sekolah, hal ini dijawab oleh Mendikbudristek Nadim Makarim, :
"Kita sudah bertahun-tahun melihat bukan hanya di Indonesia apapun yang dipaksakan probabilitas suksesnya akan rendah, yang kita butuhkan adalah kemauan dari guru-guru dan kepala sekolah untuk berubah itu adalah faktor pentingnya."
Penerapan kurikulum prototife ini akan diujicobakan selama tahun 2022 sampai tahun 2024 yang nantinya akan dievaluasi untuk melihat dampaknya kemudian. Sehingga nantinya akan muncul kesimpulan untuk diterapkan sebagai kurikulum nasional pada tahun 2024,
Keberhasilan penerapan kurikulum 2022 ini tidak akan lepas dari guru-guru dan kepala sekolah disetiap jenjang mulai dari Jenjang PAUD, sekolah dasar, hingga menengah atas. Kita akan bersama-sama melakukan cara terbaik untuk dapat melakukan pemulihan pembelajaran agar tidak terjadi lagi learning loss yang menghawatirkan.
MENGENAL KURIKULUM PROTOTIPE
kurikulum prototipe yang secara efektif akan diterapkan ditahun 2022 ini memberikan solusi dan sebagai opsi tambahan bagi satuan pendidikan untuk dapat melakukan pemulihan pembelajaran dari tahun 2022 hingga 2024. Kebijakan kurikulum nasional akan dikaji ulang pada tahun 2024 berdasarkan hasil evaluasi selama masa pemulihan pembelajaran. Kurikulum protipe ini mendorong pembelajaran sesuai dengan kemampuan siswa serta memberikan ruang yang lebih luas untuk pengembangan karakter dan kompetensi dasar kepada siswa.
Bagaimana karakteristik kurikulum prototipe yang membedakan dengan kurikulum sebelumnya yaitu kurikulum K13.
Karakteristik Kurikulum Prototipe:
Kurikulum Prototipe karakter utama yaitu pembentukan karakter yang mendukung pemulihan pembelajaran yaitu:
1. Menerapkan pembelajaran berbasis project
Menerapkan pembelajaran berbasis project yaitu pembelajaran yang menggunakan project atau kegiatan sebagai media pembelajaran. Hal ini bertujuan untuk mengembangkan sfot skill dan karakter (iman, taqwa, dan akhlak mulia, gotong royong, kebinekaan global, kemandirian, nalar kritis, kreativitas).
2. Fokus pada Materi Esensial
Fokus pada Materi Esensial ini adalah memberikan cukup waktu untuk pembelajaran yang mendalam bagi kompetensi dasar seperti literasi dan numerasi tidak terlalu padat materi, hal ini dinilai penting untuk guru memiliki waktu untuk pengembangan karakter dan kompetensi,
3. Fleksibilitas
Makna fleksibilitas ini bagi guru untuk melakukan pembelajaran yang sesuai dengan kemampuan murid (teach at the right level), bukan berbasis konten tetapi berbasis kompetensi, dan melakukan penyesuaian dengan konteks dan muatan lokal.
Pengembangan karakter menjadi fokus utama dalam kurikulum prototipe, seperti yang sudah kita ketahui bersama bahwa dalam kurikulum 2013 (K13) sudah mengutamakan pendidikan karakter.
Mari kita bahas mengenai pengembangan karakter dalam K13 hingga menjadi kurikulum protipe 2022 ini. Dalam kurikulum 2013 sejatinya sudah menekankan pada pendidikan karakter, namun pengembangan karakter belum memberi porsi khusus dalam struktur kurikulumnya. Dalam struktur kurikulum protipe 20 hingga 30% jam pelajaran digunakan untuk pengembangan karakter profil belajar Pancasila melalui pembelajaran berbasis projek.
Pembelajaran berbasis projek penting untuk mengembangkan karakter yaitu memberikan kesempatan untuk belajar melalui pengalaman mengintegrasikan kompetensi esensial yang dipelajari peserta didik dari struktur belajar yang fleksibel. Dalam penerapan pembelajaran berbasis projek pada kurikulum prototipe ini yang ikut menyediakan tujuh tema utama yang perlu dikembangkan menjadi modul dan topik dan tujuan yang lebih spesifik, dan dapat diterapkan dikelas secara holistik untuk mencapai pemulihan pembelajaran yang lebih utuh.
Berikut inilah 7 tema yang diutamakan dalam rangka pengembangan modul dan topik pada kegiatan pembelajaran di kurikulum prototipe yaitu:
1. Bangunlah jiwa dan raganya
2. Berekayasa dan berteknologi untuk membangun NKRI
3. Bhineka Tunggal Ika
4. Gaya hidup berkelanjutan
5. Kearifan Lokal
6. Kewirausahaan
7. Suara Demokrasi.
Secara rinci juga akan ditemukan ada 7 hal baru dalam kurikulum prototipe, yakni:
- Struktur kurikulum, profil pelajar Pancasila (PPP) menjadi acuan dalam pengembangan standar isi, standar proses, dan standar penilaian atau Capaian Pembelajaran (CP), prinsip pembelajaran dan assesmen pembelajaran. Secara umum struktur kurikulum terdiri dari intrakurikuler (pembelajaran tatap muka) dan pembelajaran projek.
- Capaian Pembelajaran (CP) merupakan rangkaian pengetahuan, keterampilan dan sikap sebagai kesatuan proses dan membangun kompetensi utuh (K-13 disebut KI-KD), sehingga assesmen harus mengacu kepada CP.
- Pelaksanaan proses pembelajaran dengan pendekatan tematik yang selama ini dilaksanakan di SD boleh dilaksanakan pada jenjang yang lainnya yaitu SMP, SMK dan SMK. Dan pada kelas IV, V dan VI boleh melaksanakan pembelajaran berbasis mata pelajaran.
- Jumlah jam pelajaran ditetapkan pertahun.
- Model pembelajaran kolaboratif antar mata pelajaran, dalam bentuk projek untuk pengembangan soft skill dan karakter (PPP), asesmen lintas mata pelajaran (sumatif). Penilaian projek pada jenjang SD paling sedikit 2x dalam setahun, dan jenjang SMP, SMA/SMK paling sedikit 3x dalam setahun.
- Mata pelajaran TIK dimunculkan lagi menjadi mata pelajaran informatika dan akan diajarkan mulai jenjang SMP, boleh diajarkan oleh guru mata pelajaran rumpun (IPA) atau umum lainnya jika tidak ada guru TIK di sekolah. Buku informatika disiapkan Kementerian dan sangat mudah difahami dan digunakan oleh pendidik dan peserta didik.
- Mata pelajaran IPA dan IPS jenjang SD kelas IV, V dan VI akan diajarkan bersamaan dengan nama mata pelajaran IPAS. Kemudian pada jenjang SMA peminatan atau penjurusan IPA, IPS dan Bahasa akan kembali dilaksanakan pada kelas XI dan XII.
PERBEDAAN MENDASAR ANTARA K-13 DAN KURIKULUM PROTOTIPE 2022
Seperti telah dijelaskan bahwa yang melatar belakangi munculnya kurikulum prototipe 2022 adalah kondisi Negara kita yang menghadapi pandemi dan kritik terhadap kurikulum 2013. Hal ini bisa dilihat dari salah satu mata pelajaran yaitu informatika, dimana pada awalnya bersifat pilihan dalam kurikulum 2013, menjadi wajib dikurikulum yang baru dan akan diterapkan mulai dari level Sekolah Menengah Pertama (SMP), karena kompetensi teknologi merupakan salah satu kompetensi penting yang perlu dimiliki oleh peserta didik pada masa abad 21. Apalagi pada masa-masa pandemi.
Download bahan Belajar dan Bermain Berbasis Buku Satuan PAUD di sini !!
Ada beberapa perbedaan yang sangat jelas antara kurikulum 2013 dengan kurikulum baru 2022 ini antara lain :
1. Level Taman Kanak-kanak (TK)
Untuk level Taman Kanak-kanak (TK). Pada pendekatan pembelajaran yang awalnya berbasis tema pada kurikulum 2013 berubah menjadi fokus literasi (buku yang digemari anak-anak) pada kurikulum 2022.
2. Level Sekolah Dasar
Untuk Level Sekolah Dasar Pembelajaran IPA dan IPS yang awalnya dipisah pada kurikulum 2013 diubah untuk digabung menjadi IPAS (Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosial) pada kurikulum prototipe, sebagai pondasi sebelum siswa belajar IPA dan IPS terpisah dijenjang SMP.
3. Level Sekolah Menengah Pertama
Untuk Level Sekolah Menengah Pertama Pembelajaran informatika yang sebelumnya pada kurikulum 2013 menjadi mata pelajaran (mapel) pilihan. Di kurikulum prototpe 2022 ini mata pelajaran informatika menjadi mata pelajaran wajib.
4. Untuk Level Sekolah Menengah Atas
Level Sekolah Menengah Atas Di kurikulum 2013 siswa SMA masuk langsung memilih penjurusan, sementara di kurikulum 2022 siswa mengambil dan menentukan peminatan pada kelas 11 karena didasarkan para asumsi bahwa siswa perlu berkonsultasi dengan guru BK, wali kelas dan orang tua.
Berdasarkan informasi terakhir, kurikulum prototipe 2022 ini akan diterapkan secara terbatas di beberapa sekolah dan satuan pendidikan yang dianggap pilot projek yang disebut sekolah penggerak. Semua sekolah dan satuan pendidikan ini mencerminkan keragaman yang ada pada sistem pendidikan kita di Indonesia tercinta ini.
Demikian artikel singkat tentang Implementasi kurikulum 2022 dan perbedaannya dengan kurikulum 2013 yang berhasil admin PAUD-Anakbermainbelajar himpun dan simpulkan dari berbagai sumber. Semoga bermanfaat. Terimakasih.
Sumber : dirangkum dari berbagai sumber !!
Akhmad Solihin 19.45.00 PAUD Anakbermainbelajar IndonesiaIMPLEMENTASI KURIKULUM 2022 DAN PERBEDAANNYA DENGAN KURIKULUM (K13) PAUD
PAUD-Anakbermainbelajar---Presentasi bahan perkuliahan Materi penilaian dan pelaporan perkembangan dan pertumbuhan anak usia dini. Sabagai bahan belajar dan kajian mahasiswa tentang Penilaian dan Pelaporan Tumbang AUD. Secara umum materi ini juga membahas tentang penilaian dan evaluasi yang dilakukan dalam praktik dilapangan, dalam usaha menilai dan mengevaluasi kegiatan pembelajaran di lembaga PAUD.
Secara mendasar Istilah tumbuh kembang sebenar nya mencakup dua peristiwa yang sifatnyaberbeda, tetapi saling berkaitan dan sulit dipisahkan, yaitu pertumbuhan danperkembangan. Pertumbuhan berkaitan dengan masalah perubahan dalam besar,jumlah, atau ukuran, yang bisa diukur dengan ukuran berat (gram, kilogram) danukuran panjang (cm, meter ), sedangkan perkembangan adalah bertambahnyakemampuan dalam struktur dan fungsi tubuh yang lebih kompleks dari seluruh bagian tubuh sehingga masing-masing dapat memenuhi fungsinya. Termasuk jugaperkembangan emosi, intelektual dan tingkahlaku sebagai hasil berinteraksi denganlingkungannya.
Penilaian pada pendidikan anak usia dini (PAUD) dilaksanakan pada saat anak bermain, berinteraksi dengan teman atau guru, saat anak mengomunikasikan pikiran melalui hasil karyanya dan penilaian seperti ini dilakukan setiap hari. Hal penting yang harus dipahami dan dirubah pemahaman guru bahwa hasil karya anak bukan untuk dinilai bagus tidaknya tetapi untuk dianalisa kemajuan perkembangan yang di capai anak. Penilaian perkembangan dalam pendidikan anak usia dini bukan hal yang sederhana karena banyak faktor yang perlu diperhatikan pada saat pengumpulan fakta, analisa terhadap perilaku anak saat bermain, dan analisa hasil karya anak.
PRESENTASI BAHAN KULIAH PENILAIAN DAN PELAPORAN PERKEMBANGAN ANAK
PAUD-Anakbermainbelajar-----Ada beberapa teori dan konsep dasar yang melandasi pengembangan 8 Standar Nasional Pendidikan (SNP) Anak Usia Dini (PAUD) yang dikembangkan dalam Instrumen Akreditasi (PPA-IPA PAUD). Seperti berikut ini :
1. Copple dan Bredekamp :
Karakteristik Anak Usia Dini antara lain sosok unik, dunia bermain, rasa keingin tahuannya besar, masa potensial untuk belajar, pembelajar aktif, fantasi/ imajinasinya terus berkembang, eksplorasi dan berjiwa petualang, konsentrasi pendek, ekspresinya spontan, egosentris, mudah frustasi, butuh teman.
2. Garner :
Setiap potensi kecerdasan anak harus "dilejitkan" (dikembangkan secara maksimal), dengan memenuhi setiap potensi kecerdasan tersebut.
3. Maslow :
Hirarki kebutuhan dan 5 domain dalam perkembangan anak, yakni fisik, sosial, emosional, bahasa dan keterampilan kognitif.
4. Gantham-McGregor,et. al, dan Gillian Doherty
Stimulasi Pendidikan harus disesuaikan dengan tingkat usia/tahap tumbuh kembang anak
5. Mc Lean
Pembelajaran di PAUD harus menghindarkan suasana terancam/ketakutan yang mengedepankan terciptanya suasana yang nyaman, aman dan menyenangkan; pendidik memahami suasana batin anak, sayang anak dan berpandangan positif terhadap anak.
6. Hutenlocher, Greenough, dkk
PAUD yang berkualitas harus bersifat holistik, stimulasi pendidikan dilakukan secara berulang-ulang, konsisten, bervariasi, melibatkan seluruh indera anak, memberdayakan semua potensi yang ada di sekitar anak.
7. Vygotsky:
Pertisipasi dengan orang dewasa dapat meningkatkan kualitas kognitif; Interaksi terbaik dengan anak perlu konsisten, teratur dan secara kolaboratif; guru sebagai fasilitator, peran guru/orang dewasa memberikan dukungan dan dapat melepaskan dukungannya secara bertahap; pembelajaran berkualitas perlu suasana kooperatif dan kolaboratif.
8. Kolb:
Guru terampil buat pertanyaan terbuka untuk anak, peka terhadap pengalaman anak, memelihara rasa ingin tahu anak dan pembelajaran berpusat pada anak.
9. Pieget
Anak belajar secara konkrit, perlu ada kesempatan untuk eksplorasi, guru perlu melakukan refleksi bersama anak.
10. Erikson (Teori Perkembangan Psikososial)
Kepribadian manusia berjalan menurut delapan tahap perkembangan psikososial, keberhasilan tahap sebelumnya menentukan keberhasilannya tahap selanjutnya. Tahap bayi sampai dengan pra-sekolah punya peranan penting.
Demikian tentang rangkuman konsep dasar PAUD yang melandasi Setandar Nasional Pendidikan dan instrumen akreditasi, semoga bermanfaat, terimakasih.
Sumber : Badan Akreditasi Nasional PAUD dan PNF tahun 2020
Akhmad Solihin 15.18.00 PAUD Anakbermainbelajar Indonesia
RANGKUMAN KONSEP DASAR PAUD YANG MELANDASI SNP DAN INSTRUMEN AKREDITASI
PAUD-Anakbermainbelajar-----Perkembangan merupakan proses bertambahnya kemampuan dalam struktur dan fungsi tubuh yang bersifat kompleks dengan pola yang teratur dan dapat diramalkan, hal ini merupakan hasil dari proses pematangan. Peristiwa perkembangan ini biasanya berkaitan dengan masalah psikologi seperti kemampuan gerak kasar dan halus, intelektual, sosial dan emosional.
Perkembangan anak juga terjadi dalam tataran kecerdasannya, yang dapat dikembangkan melalui kegiatan bermain pada anak itu sendiri. Bermain sendiri merupakan kebutuhan bagi setiap anak. Setiap saat anak ingin selalu bermain. Karena itu kegiatan bermain sangat bermanfaat untuk mendukung seluruh aspek perkembangan anak, terutama perkembangan intelektual atau kecerdasannya.
Manfaat bermain memang dapat meliputi seluruh aspek perkembangan anak seperti diuraikan oleh teori Howard Gardner (Multiple Intelegence) berikut :
a. Linguistic Intellegence (Kecerdasan Bahasa)
Kecerdasan Bahasa meliputi kemampuan berbahasa secara lisan dan tulisan. Kemampuan ini dapat digunakan untuk mencapai beberapa tujuan. Orang yang memiliki kecerdasan berbahasa dapat menjadi pengacara, presenter, pengarang, dan lain-lain. Bagian otak yang bertanggung jawab untuk kemampuan ini adalah broca area. Orang yang mengalami kerusakan daerah ini membuat dia kesulitan dalam meletakan kata demi kata bersama menjadi satu kalimat walaupun dapat mengerti arti kata-kata tersebut.
Contoh kegiatan bermain untuk pengembangan kecerdasan bahasa antara lain:
- Membaca buku yang sudah dikenal anak
- Betepuk tangan dengan ritme berulang, misalnya: plok plok - plok plok plok, plok plok - plok
- Bermain tepuk tangan sambil menyebutkan nama anak, misalnya: A - ni - ta, A - ni, Mar - li - na, sa - e - ful, dst.
- Merangkai dengan berbagai huruf
- Bernyanyi dengan gerak dan irama sederhana, dilakukan secara berulang-ulang
- Membaca buku bersama anak secara berulang terus-menerus
- Menghadirkan buku-buku yang paling disukai anak.
b. Logical Mathemathic Intelligence (Kecerdasan Logika Matematika)
Kecerdasan Logika Matematika meliputi kemampuan menganalisa masalah yang bersifat logis matematis dan menginvestigasi masalah secara ilmiah (scientific thingking). Kemampuan ini melibatkan sejumlah bagian pusat berpikir di otak.
Contoh kegiatan bermain untuk pengembangan kecerdasan matematika antara lain mengenal deretan angka, bermain dakon, mengukur berat, mencocokan, pengukuran panjang-pendek, mengurutkan kecil-besar, mengurutkan bilangan, bermain domino angka, menghitung benda, tebak angka, mengukur volume, menyusun pola dengan meroce, dll.
c. Musical Intellegence (Kecerdasan Musik)
Kecerdasan musik meliputi kemampuan dalam penampilan (performance), komposisi dan apresiasi bentuk-bentuk musik. Bagian otak yang memperoduksi kemampuan di bidang musik terletak di otak bagian kanan.
Contoh kegiatan bermain untuk pengembangan kecerdasan musik antara lain bermain gerak dan lagu, menari, bermain alat musik dengan pukul, petik atau tekan, bermain music dengna maracas, bernyanyi lagu dengan irama sederhana yang diulang-ulang disertai gerakan sederhana, dll.
d. Bodily-Kinestetic Intelligence (Kecerdasan Olah Tubuh)
Kecerdasan Olah Tubuh merupakan kemampuan menggunakan seluruh bagian-bagian tubuh untuk menyelesaikan masalah atau melakukan suatu gerak yang menghasilkan produk (pertunjukan). Orang yang memiliki kemampuan kecerdasan kinestetik antara lain penari, atlit, aktor, dokter bedah, mekanik dan lain-lain. Bagian otak yang memproduksi kemampuan ini adalah Cortex di kedua belahan otak (Hemisphere).
Contoh kegiatan bermain bagi anak untuk mengembangkan kecerdasan bermusik antara lain menari, menirukan gerakan binatang, bermain gerak dan lagu, mengikuti gerakan senam sederhana, bermain bola, main engrang, main layang-layang, berjalan di atas papan titian, dll.
e. Visual Spatial Intelligence (Kecerdasan Bentuk dan Ruang)
Kecerdasan bentuk dan ruangmerupakan kemampuan mengorganisasi dan memanipulasi gambar dan ruangan yang lebar. Orang yang memili kecerdasan ini lebih mudah bekerja di bidang pilot, navigator, pemain catur, arsitek, grafis, dan lain-lain.
Contoh kegiatan bermain untuk pengembangan kecerdasan bentuk dan ruang antara lain bermain balok unik, leggo, melukis, menggambar, membuat rumah-rumahan dengan balok kayu atau potongan lego, menggambar, menyusun kepingan-kepingan kayu bergambar.
f. Interpersonal Intelligence (Kecerdasan Interpersonal)
Kecerdasan Interpersonal merupakan kemampuan seseorang untuk mengerti maksud, motivasi dan hasrat orang lain serta secara konsekuen bekerja efektif dengan orang lain walaupun semua tidak begitu tampak. Contoh : Guru, politikus, orang-orang yang bekerja di klinik (perawat), penjual maupun pemuka agama. Bagian otak yang memegang peranan dalam hal ini adalah Lobus Frontal (Cortex bagian depan).
Kerusakan daerah ini menyebabkan perubahan besar pada personality, dan orang tersebut seolah-olah menjadi orang lain.
Contoh kegiatan bermain untuk pengembangan kecerdasan interpersonal antara lain bermain peran, bermain boneka anak dengan binatang, bermain boneka dengan aksesoris, dll.
g. Interpersonal Intelligence (Kecerdasan Intrapersonal)
Kecerdasan Intrapersonal merupakan kemampuan untuk mengerti diri sendiri (keinginan, maksud, ketakutan), memiliki kemampuan untuk bekerja sendiri dengan efektif dan memanfaatkan informasi untuk mengatur kehidupannya sendiri (self regulator). Orang yang memiliki kecerdasan intrapersonal tinggi mempunyai semangat hidup yang tinggi (bergairah). Bagian otak yang mengatur kemampuan ini ada di Frontal Lobe. Kerusakan pada Frotal Lobe bagian bawah akan menyebabkan irritability atau euphoria, sedangkan bila terjadi kerusakan di bagian atas dapat menyebabkan apatis, lamban dan peragu.
Contoh kegiatan bermain untuk pengembangan kecerdasan Intrapersonal antara lain bermain peran, melatih menyampaikan pikiran dan perasaan di depan teman, bermain ekspresi, dll.
Baca Juga Tiga Jenis Main Dalam Kegiatan Bermain di PAUD
h. Kecerdasan Naturalis
Kecerdasan ini berkaitan dengan seluruh yang terdapat di alam dunia ini. Kecerdasan ini sangat sensitif untuk disimulasikan dengan semua aspek alam, mencakup bertanam, bintang, cuaca, dan gambaran fisik dari bumi. Di dalamnya mencakup keterampilan menggali berbagai kategori dan varitas dari binatang, serangga, tanaman dan bunga. Ini mencakup kemampuan menanam sesuatu, memlihara dan melatih binatang. Ini juga mencakup kepekaan untuk dan mencintai bumi, sebagaimana keinginan untuk memeliharanya dan melindungi sumber-sumber alam.
Contoh kegiatan:
- Mencatat fenomena alam yang melibatkan hewan, tanaman, dna hal-hal sejenis
- Memperlihatkan pemahaman yang mendalam dalam topik-topik yang melibatkan sistem kehidupan.
i. Kecerdasan Eksistensional
Anak mengenal dirinya adalah bagian dari alam semesta, bangsa dan negara, masyarakat, dna keluarganya. Anak mengerti apa yang harus diperbuat untuk Tuhannya, dirinya, bangsa dan negara, masyarakat, dan keluarga. Anak dapat mengaktualisasikan diri melalui berbagai kegiatan secara komprehensif.
Contoh: Anak dapat menempatkan diri di manapun ia berada.
j. Kecerdasan Spritual
Kecerdasan yang berkaitan dengan kejiwaan, agama, kepercayaan, keyakinan dan prisip atau philosofi hidup. Bagi masyarakat yang religius dianggap sebagai kecerdasan terpenting atau yang paling menentukan. Sebagai pondasi dalam mengeksplorasi dan memberdayakan jenis kecerdasan-kecerdasan lainnya.
Contoh: Anak yakin dan percaya ciptaan Tuhan
Semua kecerdasan di atas harus dikembangkan secara seimbang. Dengan demikian guru perlu merancang kegiatan main yang bervariasi untuk mengembangkan tujuh kecerdasan tersebut.
Demikian tentang aspek perkembangan yang dapat dikembangkan melalu bermain berdasarkan teori Gardner, Semoga bermanfaat. Terimakasih sudah berkunjung diblog PAUD-Anakbermainbelajar ini. Semoga sukes selalu. Wassalam....
Sumber : Dirangkum dan disarikan dari berbagai sumber..
Foto : Gambar gratis - Pixabay.com.
Akhmad Solihin 13.27.00 PAUD Anakbermainbelajar Indonesia
ASPEK PERKEMBANGAN YANG DAPAT DIKEMBANGKAN MELALUI BERMAIN BERDASARKAN TEORI GARDNER
STPPA (STANDAR TINGKAT PENCAPAIAN PERKEMBANGAN ANAK)
- Pengembangan dan penerapan model Pendidikan Holistik Berbasis Karakter (PHBK). Model PHBK memfokuskan pada pembentukan seluruh aspek dimensi manusia, sehingga dapat menjadi manusia yang berkarakter, kreatif, dan berdaya pikir tinggi.
- Program Semai Benih Bangsa (SBB) untuk masyarakat miskin, yaitu menerapkan model Pendidikan Holistik Berbasis Karakter (ciptaan IHF) di TK/PAUD dan SD. Khusus untuk TK/PAUD, model ini sudah diterapkan di lebih dari 2.000 lokasi terutama di daerah miskin di seluruh pelosok Indonesia bekerja sama dengan banyak mitra sponsor. Sedangkan untuk SD, model ini sudah diterapkan di 30 SD (Negeri dan Swasta) di DKI (kerja sama dengan Pemda DKI) dan 20 lokasi lainnya di Kalimantan Timur dan Sulawesi Selatan.
- Membina Sekolah Karakter sejak tahun 2001, yaitu sekolah formal di bawah naungan IHF (dari PG, TK, SD, dan SMP) di Cimanggis, Depok. Sekolah ini juga menerapkan model Pendidikan Holistik Berbasis Karakter.
- Workshop Pendidikan Karakter untuk guru SMP dan SMA.
- Training Brain-Based Parenting (Pengasuhan Ramah Otak) untuk menyiapkan orangtua agar dapat mengasuh anak dengan cinta, serta menyiapkan anak untuk dapat mengoptimalkan perkembangan otak dan kepribadiannya.
- Feeling Education (Kecerdasan Emosi) yaitu menyiapkan para siswa untuk belajar mengendalikan emosinya melalui aplikasi neuroscience (Neuroscience for Kids).
- Violence Prevention, melalui program Stop Kekerasan Pada Anak, Stop Video Game
- Training untuk mencetak generasi kreatif melalui Brain-Based Learning, Creative Education, dan Origami for Character Building.
- Penerbitan buku-buku yang bertemakan karakter.









