TIGA JENIS MAIN DALAM KEGIATAN BERMAIN DI PAUD

Kamis, 28 November 2013

PAUD-Anakbermainbelajar----Bermain adalah kegiatan yang anak-anak lakukan sepanjang hari, karena bagi anak bermain adalah hidup dan hidup adalah bermain. Anak usia dini tidak membedakan antara bermain belajar dan bekerja. Anak-anak pada umumnya menikmati permainan dan akan terus melakukan dimanapun mereka berada dan memiliki kesempatan untuk bermain.


Adapun Tiga jenis bermain yang dikenal dalam penelitian anank usia dini (Weikart, Rodgers, & Adcock, 1971) dan teori dari Erik Erikson, Jean Piaget Lev Vygotsky, dan Anna Freud yaitu :

1. Sensorimotor atau main fungsional

2. Main Peran (Mikro dan Makro)

3. Main pembangunan (sifat cair/bahan alam dan tersetruktur).

Secara lebih jelaskan marilah bunda kita ikuti dalam ulasan dibawah ini sebagai berikut :


1. Sensorimotor atau main fungsional

Dalam bermain sensorimotor anak melakukan sesuatu berulangkali untuk menikmati sesuatu hang baru dikuasai dan menegaskan kepada dirinya sendiri kemampuan yang baru diperoleh, misalnya anak mengayak pasir atau menepuk air dengan jari jemarinya karena ia ingin menikmati efek tindakan ini dan senang akan kemampuannnya. Main ini utamanya dilakukan oleh anak-anak usia lahir hinga dua tahun, namun tetap penting sepanjang masa kanak-kanak. kebutuhan akan main sensorimotor dipenuhi bilamana lingkungan bermain baik di dalam maupaun diluar menyediakan kesempatan bagi anak untuk berinteraksi dengan berbagai bentuk tekstur, warna, bentuk, ukuran, dan jenis-jenis bahan main lainnya (Phelps. 2005, p 7-8). Main ini diberi banyak kesempatan pada anak mengembangkan keterampilan bahasa dan keaksaraan, misalnya koordinasi gerakan tangan dan mata yang penting untuk mengikuti teks halaman sebuah buku, demikian pula gerakan motorik kasar dan halus yang diperlukan untuk persiapan menulis. Main peran seringkali disebut dengan main pura-pura atau main simbolik dimana anak biasanya mengambil sebuah peran pura-pura untuk memainkan peran tersebut. Anak-anak sering memerankan sesuatu yang mereka alami atau lihat; tugas-tugas kognisi yang memerlukan anak untuk mengingat kembali apa yang terjadi, me4milih aspek yang relevan, dan menggunakan gerak atau kata-kata dari peran yang dimainkan. 

Perkembangan main peran dimulai sekitar usia dua tahun saat pertama kali anak toddler berpura-pura "minum dari cangkir" atau " berbicara dari telepon". Kemampuan main peran meningkat seiring berkembangnya kognisi anak selama tujuh tahun pertama dlaam kehidupannya. (Charles H. Wolfgang, Bea Mackender, and Mary E. Wolfgang, 1981, p.8).


2. Main Peran (Mikro dan Makro)

Main peran merupakan pengalaman penting yang mendukung perkembangan anak secara keseluruhan; kognisi, sosial, emosional, dan bahasa. Smilansky dan peneliti lain (1990) seperti dikutip Phelps menggambarkan sebuah alat penilaian main peran dan menggunakan alat ini untuk mengamati anak-anak. Ia menemukan bahwa kemampuan anak bermain peran berkaitan langsung dengan pengungkapan kata-kata yang baik, kotsa kata yang lebih kaya, pemahaman bahasa lebih tinggi, strategi pemecahan masalah lebih baik, kemampuan intelektual lebih tinggi, bermain dengan teman lebih banyak, agresi menurun, empati lebih banyak, lebih imajinatif, rentang perhatian lebih panjang, kemampuan perhatian lebih besar, dan kinerja tugas-tugas percakapan lebih banyak. (Wolfgang, Bea Mackender, and Mary E. Wolfgang, 1981, p.7-8).


3. Main pembangunan (sifat cair/bahan alam dan tersetruktur).

Dalam main pembangunana anak menggunakan objek atau bahan-bahan main untuk menciptkan sesuatu, misalnya menggunakan deretan balok besar mewakili jalan atau balok kecil mewakili mobil. Wolfgang, Bea Mackender, and Mary E. Wolfgang, 1981, p. 10 Wolfgang menjelaskan bahwa terdapat suatu kontinum dari bahan-bahan main pembangunan mulai dari sifat paling cair hingga kepaling struktur. Bila penggunaan dan bentuk dari bahan-bahan main ditentukan oleh anak, seperti cat, krayon, spidol, play dough, pasir, dan lumpur maka disebut bahan main sifat cair. Namun apabila penggunaan ditentukan oleh bahan-bahan main tersebut, seperti balok unit, lego, balok brongga, dan puzzle maka dianggap sebagai bahan main pembangunan terstruktur (Charles, Wolfgang and Mary E. Wolfgang, 1992).

Anak usia dini yang baru pertama kali mengenal bahan-bahan main pembangunan akan memulainya dengan main sensorimotor. Mereka akan mengeksplorasi bahan-bahan main tersebut hingga mengerti penggunaan dan bagaimana cara memakainya. Penelitian yang dilakukan Phelps di sekolahnya menunjukan bahwa tahap-tahap perkembangan anak meningkat seiring anak menguasai bahan tersebut. Anak-anak yang awalnya menggunakan car dan melukis dengan mencoret-coretkan karyanya di papan lukis makin lama lukisan tersebut makin terlihat seperti apa yang mereka gambarkan.

Pieget menjelaskan bahwa bila hasil karya anak menjadi semakin nyata maka secara kognisi anak bergerak mendekati pikiran operasional kongkrit (Pieget, 1962) Bila mana anak dapat terlibat di tahap main yang lebih tinggi ini (sudah ada gagasan dalam pikiran, menghasilkan karya, menceritakan dan menggunakan karyanya untuk bermain peran) maka mereka akan tertarikpada kegiatan yang berkenaan dengan huruf, angka, dan kegiatan keaksaraan. Menurut Phelps, anak-anak harus mampu mewakili yang nyata dalam permainannya sebelum mereka bisa mewakili yang nyata dengan huruf, kata atau angka. Melalui pengalaman bainnya nak belajar tentang dunia sekitarnya dan ketika keterampilan serta pengetahuan yang sesuai dtelah berkembang, ia akan menggunakan sistem simbol dari budaynya untuk membaca dan menulis (Phelps, 2005, p.3).

Demikian tentang tiga jenis main dalam kegiatan bermain di PAUD, semoga bermanfaat. terimakasih sudah berkunjung kembali di blog PAUD-Anakbermainbelajar ini, terimakasih. sukses selalu.



12.10.00

0 komentar: