Paud-AnakBermainBelajar--Blog---Pemerintah Republik Indonesia di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo dan Wakil Presiden Gibran, memiliki visi mewujudkan Bersama Indonesia Maju Menuju Indonesia Emas 2045 dan delapan misi yang disebut Asta Cita. Untuk mendukung terwujudnya visi tersebut, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah mengemban tugas untuk mempersiapkan sumber daya manusia (SDM) unggul yang selaras dengan misi Asta Cita keempat yakni memperkuat pembangunan sumber daya manusia, sains, teknologi, pendidikan, kesehatan, prestasi olahraga, kesetaraan gender, serta penguatan peran perempuan, pemuda, dan penyandang disabilitas.
SDM unggul tersebut harus mempunyai delapan karakter utama bangsa yakni: religius, bermoral, sehat, cerdas dan kreatif, kerja keras, disiplin dan tertib, mandiri, serta bermanfaat. Delapan karakter utama bangsa ini dapat tercapai melalui pembiasaan yang harus dilakukan oleh anak setiap hari sehingga membudaya. Jika kebiasaan ini diterapkan bertahun-tahun maka akan terinternalisasi pada diri anak menjadi karakter.
Pembiasaan yang harus dilakukan oleh anak setiap hari disebut dengan tujuh kebiasaan anak Indonesia hebat, yakni bangun pagi, beribadah, berolahraga, makan sehat dan bergizi, gemar belajar, bermasyarakat, dan tidur cepat.
Tujuh kebiasaan ini diharapkan dapat terlaksana setiap hari, berkelanjutan, hingga menjadi budaya, dan terinternalisasi menjadi karakter. Pembentukan karakter ini membutuhkan waktu dan keterlibatan berbagai pihak terutama keluarga, satuan pendidikan, masyarakat, dan media. Oleh karena itu, dibutuhkan panduan bagi pihak keluarga (Orang tua/wali) dan satuan pendidikan (pendidik dan tenaga kependidikan) agar dapat: 1. memahami manfaat penerapan tujuh kebiasaan anak Indonesia hebat; 2. mengetahui perannya dalam membentuk tujuh kebiasaan anak Indonesia hebat; dan 3. melakukan pemantauan dan evaluasi penerapan tujuh kebiasaan anak Indonesia hebat secara berkala.
Gerakan 7 Kebiasaan Anak Hebat G7KAIH Untuk PAUD
Gerakan 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat (G7KAIH) untuk PAUD adalah program pembentukan karakter sejak dini melalui pembiasaan harian: bangun pagi, beribadah, berolahraga, makan sehat, gemar belajar, bermasyarakat, dan tidur cepat. Program ini bertujuan membentuk generasi sehat, disiplin, mandiri, dan berakhlak mulia melalui kolaborasi orang tua dan satuan pendidikan.
Download Buku Panduan
Buku Panduan 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat Disini
Gerakan 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat (G7KAIH) untuk PAUD adalah program pembentukan karakter sejak dini melalui pembiasaan harian: bangun pagi, beribadah, berolahraga, makan sehat, gemar belajar, bermasyarakat, dan tidur cepat. Program ini bertujuan membentuk generasi sehat, disiplin, mandiri, dan berakhlak mulia melalui kolaborasi orang tua dan satuan pendidikan.
Tujuh Kebiasaan Anak Hebat (G7KAIH) secara rinci:
- Bangun Pagi: Memulai hari dengan semangat dan kemandirian.
- Beribadah: Membiasakan diri berdoa dan taat beribadah (religius).
- Berolahraga: Menjaga kebugaran fisik dan motorik anak.
- Makan Sehat & Bergizi: Membiasakan pola makan sehat untuk pertumbuhan.
- Gemar Belajar/Literasi: Menanamkan rasa ingin tahu dan literasi sejak dini.
- Bermasyarakat/Bersosialisasi: Membentuk kepedulian sosial, sopan santun, dan gotong royong.
- Tidur Cepat: Memastikan istirahat cukup untuk
![]() |
| Poster G7KAIH PAUD |
Download Poster 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat untuk PAUD Disini
Penerapan G7KAIH ini sebagai salah satu program prioritas dalam bidang Pendidikan dalam rangka menciptakan karakter kuat Anak Indonesia generasi Bangsa.
Demikian ulasan rangkuman singkat tentang Gerakan 7 Kebiasaan Anak Hebat G7KAIH Untuk PAUD yang dapat Admint PAUD-AnakBermain-Belajar-Blog Bisa Bagikan. Semoga Bermanfaat.
Sumber dan Referensi :
- https://cerdasberkarakter.kemendikdasmen.go.id/
- https://paudpedia.kemendikdasmen.go.id/
Akhmad Solihin 17.44.00 PAUD Anakbermainbelajar Indonesia
Gerakan 7 Kebiasaan Anak Hebat G7KAIH Untuk PAUD
Definisi Pembelajaran Mendalam
PAUD-AnakBermainBelajar-Blog---Merujuk pada dasar pengembangan Deep Learning yang digunakan kementrian Pendidikan Dasar dan Menengah dinyatakan bahwa:
Pembelajaran mendalam merupakan pendekatan yang memuliakan dengan menekankan pada penciptaan suasana dengan menekankan pada penciptaan suasana belajar dan proses pembelajaran berkesadaran, bermakna dan menggembirakan melalui olah piker, olah hati, olah rasa, dan olah raga secara holistik dan terpadu.
Pembelajaran deep learning PAUD adalah pendekatan pembelajaran yang berfokus pada pemahaman konsep secara mendalam. Pendekatan ini mendorong anak-anak untuk berperan aktif dalam proses pembelajaran.
Deep learning, sebagai bagian dari kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), telah diadopsi di berbagai sektor, termasuk pendidikan. Meskipun konsep deep learning lebih sering dikaitkan dengan teknologi canggih dan pendidikan tinggi, potensi aplikasinya dalam pembelajaran anak usia dini, khususnya di taman kanak-kanak (TK), mulai dieksplorasi. Berikut adalah desain pembelajaran yang mengintegrasikan deep learning untuk TK dengan tetap memperhatikan kebutuhan anak-anak pada tahap perkembangan ini.
1. Pendekatan Visual dan Interaktif
Pembelajaran deep learning untuk anak usia dini harus berfokus pada pendekatan visual dan interaktif. Anak-anak di TK cenderung belajar dengan baik melalui stimulasi visual, seperti gambar, animasi, dan video. Teknologi berbasis AI yang menggunakan deep learning dapat mengidentifikasi pola preferensi anak dan menyesuaikan konten visual sesuai dengan tingkat minat dan perkembangan anak. Misalnya, aplikasi pembelajaran berbasis deep learning dapat mempersonalisasi cerita bergambar atau video edukatif berdasarkan gaya belajar masing-masing anak.
2. Gamifikasi dan Pembelajaran Adaptif
Gamifikasi adalah salah satu strategi efektif untuk memotivasi anak-anak. Deep learning memungkinkan pembelajaran adaptif, di mana sistem pembelajaran dapat menyesuaikan tingkat kesulitan permainan edukatif secara otomatis berdasarkan kemampuan anak. Misalnya, jika seorang anak menunjukkan kemajuan dalam pengenalan angka, permainan dapat bergerak ke level yang lebih menantang. Hal ini memungkinkan setiap anak belajar pada kecepatan mereka sendiri tanpa merasa tertinggal atau bosan.
3. Pengembangan Keterampilan Berpikir Kritis
Meskipun deep learning digunakan untuk membantu memahami preferensi dan pola belajar anak, teknologi ini juga bisa mengembangkan keterampilan berpikir kritis anak melalui aktivitas berbasis AI. Contoh implementasinya adalah penggunaan aplikasi interaktif yang meminta anak menyusun teka-teki atau mencari solusi untuk masalah sederhana, dan sistem dapat memberikan umpan balik instan yang membantu anak belajar dari kesalahan.
4. Pendekatan Emosional
Pembelajaran deep learning untuk anak-anak juga harus memperhatikan aspek emosional. Teknologi pengenalan wajah berbasis deep learning dapat mendeteksi ekspresi emosional anak, sehingga aplikasi dapat menyesuaikan materi atau pendekatan pengajaran saat anak merasa frustrasi atau bosan. Ini membantu menciptakan pengalaman belajar yang lebih ramah anak.
5. Pengawasan dan Kolaborasi Guru
Meskipun teknologi deep learning bisa sangat bermanfaat, peran guru tetap esensial. Guru dapat memantau kemajuan anak melalui platform pembelajaran berbasis AI dan memberikan intervensi langsung jika diperlukan. Ini juga membantu guru merancang kegiatan belajar yang lebih personal dan relevan berdasarkan data yang dihasilkan oleh sistem AI.
Contoh Desain Pembelajaran Mendalam (Deep Learning) di PAUD
1. Praktik Pedagogis
- Pembelajaran berbasis Inkuiri
- Kerja Kelompok, eksplorasi lapangan, presentasi.
2. Lingkungan Pembelajaran
- Ruang Fisik: Lingkungan di sekitar sekolah
- Ruang Virtual: Virtual Field Trip (kunjungan kebun secara Virtual)
- Budaya Belajar: Kolaboratif, berpartisipasi aktif, dan rasa ingin tahu
3. Pemanfaatan Teknologi Digital
- Perencanaan: Modul ajar berbasis teknologi
- Pelaksanaan: Sumber belajar video tentang pertumbuhan tanaman dan stimulasi interaktif tentang pertumbuhan tanaman
- Asesmen: Berbasis TIK
4. Kemitraan Pembelajaran
Penjual Tanaman dilingkungan tempat tinggal.
LANGKAH-LANGKAH PEMBELAJARAN
Contoh Langkah-Langkah Pembelajaran
- Minggu ke-1
Awal (Berkesadaran, Bermakna)
1. Guru membuka pelajaran dengan salam, doa Bersama, dan sapaan ramah untuk menciptakan suasana positif.
2. Guru menerapkan Teknik permainan pemusatan konsentrasi
3. Guru menumbuhkan kesadaran anak bahwa tanaman merupakan makhluk ciptaan Tuhan yang perlu kita rawat
4. Guru memulai dengan video kondisi tanaman yang terawat dan tidak terawat
5. Guru memberikan pertanyaan pemantik untuk menstimulasi empati peserta didik terhadap tanaman yang tidak terawat. "Apakah kondisi kedua tanaman tersebut berbeda?"
"Mengapa ada tanaman yang tumbuh dan tidak tumbuh?"
6. Guru menyampaikan tujuan pembelajaran dengan mengaitkan peran peserta didik "Apa yang dapat kita lakukan untuk merawat tanaman agar tumbuh dengan baik?"
Memahami (Bermakna dan menggembirakan)
1. Guru menstimulasi pengetahuan anak tentang tanaman
- Apa itu tanaman?
- Apa Saja bagian-bagian tanaman?
- Apa yang membuat tanaman dapat tumbuh?
- Bagaimana merawat tanaman agar tumbuh dengan baik?
2. Guru memberikan pengalaman berbagai sumber belajar mengenai tanaman dari video dan stimulasi interaktif
3. Membuat gambar tanaman dan merawat tanaman
Minggu ke-2
1. Anak melakukan kunjungan ke penjual tanaman
2. Anak mengamati tanaman-tanaman di penjual tanaman
3. Anak melakukan tanya jawab dengan penjual tanaman tentang cara merawat tanaman
4. Anak menyimak penjelasan dari penjual tanaman
5. Anak bercerita tentang kunjungan ke penjual tanaman
6. Guru menumbuhkan kesadaran kepada anak mengenai pentingnya menyayangi tanaman.
Minggu ke-3 dan ke-4 (bermakna dan menggembirakan)
1.Anak berdiskusi dengan teman guru pendamping untuk merancang proyek pertumbuhan tanaman
2. Anak menanam tanaman dan mengamati perubahannya
3. Anak mempresentasikan kegiatan proyek pertumbuhan tanaman
4. Guru memfasilitasi diskusi hasil proyek pertumbuhan tanaman
5. Anak memperoleh umpan balik dari guru atau teman-temannya
Minggu ke-4
Merefleksi (berkesadaran dan bermakna)
1. Anak melakukan refleksi pengalaman belajarnya
2. Guru mengecek pencapaian tujuan pembelajaran anak
3. Anak distimulasi untuk menyampaikan peranannhya untuk memelihara tanaman
4. Anak menyampaikan motivasi dirinya untuk terus belajar
ASESMEN PEMBELAJARAN
Minggu ke-4
Penutup
1. Asesmen Awal : Asesmen awal pengetahuan tentang tanaman melalui pertanyaan lisan
2. Asesmen Proses: gambar tanaman dan presentasi proyek dan pengalaman belajar
3. Asesmen Akhir: Catatan anekdot, hasil karya, Observasi.
Pembelajaran Deep Learning untuk Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD)
Meningkatkan Literasi Anak PAUD melalui Bercerita Sejak Dini-Mengenalkan konsep literasi kepada anak, ada berbagai cara salah satunya dengan memberikan cerita atau bercerita. Ini bisa menjadi cara yang efektif sekaligus menyenangkan bagi anak, dalam rangka Meningkatkan Literasi Anak!
PAUD-Anakbermainbelajar---Literasi merupakan keaksaraan atau kebahasaan tulis. Literasi menjadikan bahasa tulis sebagai media untuk mendapatkan informasi dan ilmu pengetahuan. Literasi menggunakan aksara tulis untuk menyampaikan ide, gagasan, dan perasaan pada orang lain. Literasi dalam hal ini bukan berarti hanya aktivitas membaca dan menulis, melainkan ada nilai keberhasilan anak-anak mendapat pelajaran dengan membaca dan menulis.
Literasi untuk anak usia dini berkaitan dengan pengenalan bahasa-bahasa tulis guna memahami dan menggunakan bahasa tulis sebagai media untuk memahami dunia dan mengekspresikan keinginan dan kesenangan. Anak usia dini akan mendalami proses aspek perkembangan bahasanya, ada orientasi untuk bisa memahami tulisan seiring dengan kemampuannya dalam mengembangkan bahasa lisan (Sofie Dewayani, 2018).
Literasi ditanamkan lebih awal kepada anak-anak dimulai dari ruang keluarga. Ruang keluarga merupakan ruang sosial terpenting bagi anak-anak dalam belajar literasi. Keluarga pertama kali belajar literasi melalui interaksi dengan melakukan proses imitasi dan inovasi literasi dengan menjadikan perilaku literasi orang tua sebagai role model-nya. Makin intens dan kompleks kegiatan literasi yang dikondisikan dan dikembangkan dalam lingkungan pendidikan keluarga,akan makin baik pula kemampuan dan keterampilan literasi yang dikuasasi anak. Anak akan berumbuh dan berkembang menjadi individu yang literat.
Berbagai fenomena perilaku literasi anak-anak pun bisa ditemukan dalam lingkungan pendidikan di ruang keluarga. Misalnya, keluarga yang memiliki kegiatan literasi yang melibatkan anak dan orang tua akan membentuk anak yang memiliki kompetensi dan keterampilan literasi baik. Sebaliknya, jika anak-anak dengan orang tua kurang intensif dalam pengembangan literasi di ruang keluarga, anak cenderung memiliki kemampuan dan keterampilan literasi yang tidak baik. Dari sinilah, kemampuan dasar literasi anak tidak akan lepas dari pengaruh lingkungan belajar dalam keluarga.
Belajar bahasa anak usia dini itu komprehensif. Artinya, dalam waktu yang bersamaan anak bisa belajar keterampilan bahasa, menyimak, berbicara, membaca, dan menulis. Dalam satu kegiatan bahasa, anak belajar menyimak dan berbicara yang bisa dikombinasikan sekaligus dalam belajar menulis dan membaca. Oleh karena itu, kegiatan literasi dilakukan melalui materi literasi yang yang sesuai dengan perkembangan bahasa sehingga tidak terjadi pemaksaan dan kekerasan bahasa dari aspek psikologi anak-anak. Dalam artikel ini, penulis akan mengkaji dan memformulasikan bagaimana mengembangkan literasi sejak dini melalui kegiatan bercerita dengan memadukan komunikasi menyimak dan berbicara. Artinya, aktivitas bercerita akan digunakan sebagai metode dalam mengembangkan literasi anak usia dini sehingga kemampuan membaca dan menulis anak telah dibangun sejak dini (Siregar & dkk, 2021).
Penelitian dalam artikel ini mengambil subjek anak-anak dan keluarga yang mempunyai aktivitas bercerita di Lingkungan Wadas Kelir, Karangklesem, Purwokerto Selatan, Kabupaten Banyumas. Wadas Kelir merupakan kampung literasi. Sejak tahun 2017, Wadas Kelir dinobatkan menjadi kampung literasi oleh pemerintah Kabupaten Banyumas. Banyak kegiatan literasi yang dilakukan telah berdampak pada masyarakat sekitar, seperti mendongeng, membaca nyaring, tebak kata, dan lainnya. Program literasi dilakukan secara bersama-sama dengan menyediakan program taman bacaan masyarakat untuk meminjamkan buku-buku secara gratis. Anak-anak mendapat buku-buku cerita sebagai bahan belajar di rumah. Dari sinilah, penulis tertarik menganalisis dan menyampaikan kegiatan literasi keluarga bercerita sejak dini. Berikut paparan singkat hasil penelitian penulis.
Bercerita Memudahkan Struktur Bahasa
Kemampuan produksi bahasa anak usia dini sedang dalam proses pemahaman pada kalimat sederhana. Namun, dari aspek kemampuan resepsinya, anak usia dini bisa memahami bahasa dengan tingkat struktur kalimat lengkap. Oleh karena itu, cerita yang disajikan dalam tujuan membangun kemampuan literasi, struktur bahasanya harus sederhana (Afifah & Kuswanto, 2020). Jika melihat di keluarga Bapak Aziz, salah satu subjek penelitian, melakukan aktivitas bercerita kepada Alya Firzanah, terdapat tiga hal penting dalam nilai kesederhanaan sebagai berikut.
Pertama, pilihan kata yang digunakan merupakan kata-kata yang familier dengan anak usia dini. Kata-kata yang konkret serta sudah sering dikatakan oleh Bapak Aziz dan banyak orang di sekelilingnya. Kata ajaib dikenalkan kepada anak dengan kata tematik yang menjadi fokus kegiatan bercerita. Kata yang sifatnya konkret dengan arti petunjuk merujuk pada benda, sifat, dan kegiatan yang ada dan sering dilakukan.
Kedua, struktur kalimatnya singkat dalam satu klausa. Tidak ada kalimat majemuk dan rancu. Kalimat menunjukkan kesederhanaan struktur, yaitu subjek, predikat, objek, perlengkapan, dan keterangan yang tunggal. Tidak ada kalimat ungkapan kias. Kalimat merujuk dunia keseharian anak usia dini. Kalimat bisa berkombinasi dalam membangun imajinasi anak-anak. Kalimat langsung dipahami oleh anak-anak.
Ketiga, bahasanya diutamakan yang liris, yaitu bahasa yang berlagu. Anak usia dini lebih mudah mengingat bahasa dalam satuan liris. Buktinya, anak cepat menghafalkan lagu-lagu, hafal kejadian yang didengar, dilihat, dan dirasakan oleh anak. Bahasa liris harus dibangun dalam struktur cerita untuk anak usia dini.
Aktivitas Bercerita untuk Anak
Kemampuan bahasa anak dimulai dari keterampilan menyimak. Sejak dilahirkan dalam proses pertumbuhan sampai empat bulan, anak tumbuh dalam pesatnya indra pendengaran yang sempurna. Melalui indra pendengar ini, anak menyerap berbagai bunyi dan suara yang tercipta di sekelilingnya. Bunyi akan ditransfer dan disimpan dalam sistem pusatnya. Menurut Montessori, indra pendengar yang sedemikian rupa menakjubkan bisa mendengarkan bunyi yang diciptakan oleh Tuhan dengan sangat indah. Setidaknya, indra pendengar ini membuat anak-anak berbeda dengan binatang yang juga memiliki indra pendengar. Perbedaannya terletak pada kemampuan indra pendengar anak lebih terpikat pada bunyi yang berupa bunyi dari alat ucap manusia daripada bunyi lainnya (Montessori, 2011). Hal ini dilakukan oleh Keluarga Bapak Idris, Bapak Heru, dan Bapak Cipto yang memiliki anak kecil. Mereka sudah mengajari keterampilan menyimak berbagai bunyi dari luar.
Keluarga Bapak Cipto mempunyai anak bernama Rois Nur Ikhsan. Dalam proses tumbuh kembangnya, Rois mengucapkan kata-kata masih deng terbata-bata, saat berbicara terkadang tidak bisa mengendalikan huruf “r”, dan terkadang cedal dalam ucapannya. Akan tetapi, logika bermain sangat aktif. .
Keterampilan menyimak membutuhkan banyak pembiasaan. Dari sinilah, anak belajar bahasa pertama kali dari bunyi-bunyi bahasa lisan yang diterima indra pendengar yang kemudian disimpan di otak pusatnya. Barang kali Rois selama tumbuh tidak begitu banyak mendapatkan komunikasi sehingga alat ucapnya belum bisa dikendalikan.
Prosesnya, saat anak sudah bisa mengucapkan kata dengan baik, pengenalan struktur kata yang terbangun atas huruf-huruf akan bisa dilakukan dengan baik. Dengan pengenalan huruf yang membangun struktur kata, anak akan memahami bahasa tulis. Pengenalan bahasa tulis dengan baik dilakukan melalui sistem kategorisasi gambar, yaitu menampilkan kata dengan gambar agar kesan konkret tercipta sehingga proses mengingat kata dan gambarnya bisa dilakukan dengan baik. Dengan ingatan tentang gambar dan kata yang baik, anak diorientasikan untuk memahami struktur kata dengan cara yang menyenangkan dan dapat dieksplorasi dengan cepat.
Keluarga Bapak Cipto dapat mengamati berbagai problem dan aktivitas yang dilakukan dengan penilaian yang berbeda dan tingkatan usia yang berbeda. Hal ini tentu diawali dari ruang keluarga bagaimana menanamkan rasa kesadaran untuk membudayakan literasi dengan baik. Kegiatan ini yang telah dilakukan oleh keluarga Bapak Heru terhadap Kemilau Setanggi Timur. Dalam aktivitas bercerita, Kemilau seolah memiliki beberapa hal penting sebagai berikut.
Pertama, Kemilau berada dalam aktivitas bercerita yang menyenangkan. Salah satu aktivitas yang tepat bagi anak adalah aktivitas yang menyenangkan. Hal yang menyenangkan bagi anak usia dini salah satunya adalah aktivitas bercerita. Oleh karena itu, Setiap kita bercerita hendaknya dilakukan dengan menarik melalui organisasi potensi gerak, imajinasi, kognitif, dan moral.
Kedua, aktivitas bercerita melatih keterampilan menyimak dan berbicara. Aktivitas bercerita merupakan aktivitas intensif dalam menyimak dan berbicara. Ketika cerita disampaikan, anak akan melakukan aktivitas mendengarkan. Pada aktivitas ini, anak-anak usia dini akan mendapatkan banyak struktur bahasa (intonasi, kata, kalimat, wacara, sampai pragmatika). Anak-anak dalam keluarga akan mendapatkan pengalaman dan pengetahuan dari kegiatan menyimak cerita. Proses menyimak akan diteruskan ke otak pusat, disimpan, dan dijadikan kemampuan bawah sadar anak dalam hal bahasa. Kemampuan bahasa dalam menyimak ini akan diaktualisasikan melalui kegiatan berbicara.
Ketiga, aktivitas berbicara melalui kategorisasi gambar. Aktivitas bercerita untuk anak-anak di ruang keluarga harus dilakukan dengan media gambar. Melalui media gambar, anak bisa mengembangkan imajinasinya, mendapat gambaran konkret tentang cerita, serta bisa mengidentifikasi arti bahasa. Dari sinilah, aktivitas bercerita akan membuat anak-anak melakukan kategorisasi gambar, yaitu suatu aktivitas mengidentifikasi kata melalui gambar sehingga diperoleh pemahaman semantik dan morfologisnya bahkan pragmatika dalam mengucapkan kata-kata itu.
Keempat, aktivitas bercerita itu bisa didesain dengan pengintai. Selain kategorisasi gambar, dengan aktivitas cerita yang berdasarkan pada proses pengintaian, yaitu kegiatan mengintip kata melalui gambar dan membongkar kata menjadi satuan linguistik yang (huruf, suku kata, dan kata) akan memberikan pemahaman linguistik (membaca) pada anak. Kemudian, dengan desain aktivitas bercerita pada menulis yang berbasis permainan, akan membuat anak-anak terlatih keterampilan menulis sejak awal. Dari sinilah, aktivitas bercerita dengan desain pengintai akan membuat anak-anak meningkatkan keterampilan membaca dan menulisnya.
Simpulan
Dari serangkaian aktivitas bercerita ini dapat diidentifikasi bahwa kegiatan literasi melalui aktivitas bercerita di ruang keluarga dilakukan dalam konteks (1) aktivitas anak dalam menyimak cerita yang disampaikan dengan menarik dan menyenangkan; (2) berbicara dengan menyebutkan aspek dan hal penting dalam cerita yang dipandu oleh pencerita; (3) terlibat dalam aktivitas membaca melalui media kreativitas yang diciptakan; dan (4) aktivitas menulis sederhana dari media kreativitas yang diambil dari materi cerita. Melalui aktivitas bercerita ini, anak usia dini dikondisikan untuk belajar literasi, terutama membaca dan menulis, dengan menarik dan menyenangkan sehingga anak usia dini dalam ruang keluarga akan menyukainya. Dari sinilah tujuh keluarga (subjek penelitian) yang memiliki aktivitas bercerita yang didesain sedemikian rupa sesuai dengan karakteristik bahasa anak dan konsep literasi anak usia dini dapat meningkatkan kemampuan anak dalam membaca dan menulis yang sesuai dengan perkembangan bahasa anak.
Daftar Pustaka
Afifah, D. N., & Kuswanto, K. 2020. Membedah Pemikiran Maria Montessori Pada Pendidikan Anak Usia Dini. Pedagogi?: Jurnal Anak Usia Dini Dan Pendidikan Anak Usia Dini, 6(2), 57–67. https://doi.org/10.30651/PEDAGOGI.V6I2.4950
Montessori, M. 2011. The Absorbent Mind. Pustaka Pelajar.
Siregar, M., & dkk. 2021. Pengenalan Ecoliteracy pada Anak Usia Dini melalui Metode Bercerita. Jurnal Obsesi, 5(1), 724.
Sofie Dewayani, R. S. 2018. Saatnya Bercerita Mengenal Literasi Sejak Dini. PT Kanisius.
Wiyatun, I. I. 2022. Peningkatan Aktivitas Belajar melalui Latihan Bercerita pada Anak Usia Dini. PAUD Lectura: Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini, 5(03), 155–165. https://doi.org/10.31849/PAUD-LECTURA.V5I03.10680
Akhmad Solihin 08.51.00 PAUD Anakbermainbelajar Indonesia
Meningkatkan Literasi Anak PAUD melalui Bercerita Sejak Dini
Adapun kegiatan pembelajaran disekolah lembaga satuan PAUD yang dapat dilakukan selama bulan Puasa Ramadhan adalah Rangkaian Ibadah yang Khusyuk dan penuh dengan nuansa keagamaan yang lebih dalam lagi.
PAUD-AnakBermainBelajar---Umat Islam akan memasuki Bulan yang penting dan penuh rahmat yaitu Bulan Ramadhan. Bulan Ramadhan adalah bulan suci yang sangat penuh dengan keberkahan untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT, yaitu dengan meningkatkan kualitas diri, dan mempererat tali persaudaraan. Saat Ramadan, sedikit berbeda dengan hari-hari biasanya,pada bulan Ramadhan sekolah-sekolah akan melakukan berbagai keaagamaan bagi yang memeluk Agama Islam. Kegiatan ini dilakukan baik terintegrasi dalam pembelajaran dikelas maupun pada program kegiatan di luar jam belajar mengajar.
Kegiatan Ramadan dapat meningkatkan kesadaran siswa tentang keutamaan Ramadan dan pentingnya menjalani ibadah puasa, membantu siswa memahami makna dan tujuan Ramadan, hingga membantu siswa membangun hubungan yang lebih dekat dengan Allah SWT.
Lalu kegiatan apa saja yang bisa digelar di sekolah saat bulan Ramadan 2025? berikut menurut Google jika kita mengetik pencarian dengan kata kunci kegiatan pembelajaran di Sekolah Bulan Ramadhan.
Tadarus Al-Qur'an Bersama. Aktivitas membaca dan memahami Al-Qur'an tidak hanya sekadar melafalkan, tetapi juga merenungkan maknanya.
Kultum Harian.
Salat Berjamaah.
Muhasabah dan Doa Bersama.
Kajian Tematik.
Sholat Dhuha & Dzikir Bersama.
PAUD-Anakbermainbelajar-blog---Umat Islam akan memasuki Bulan yang penting dan penuh rahmat yaitu Bulan Ramadhan. Bulan Ramadhan adalah bulan suci yang sangat penuh dengan keberkahan untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT, yaitu dengan meningkatkan kualitas diri, dan mempererat tali persaudaraan. Saat Ramadan, sedikit berbeda dengan hari-hari biasanya,pada bulan Ramadhan sekolah-sekolah akan melakukan berbagai keaagamaan bagi yang memeluk Agama Islam.
Kegiatan ini dilakukan baik terintegrasi dalam pembelajaran dikelas maupun pada program kegiatan di luar jam belajar mengajar.
Kegiatan Ramadan dapat meningkatkan kesadaran siswa tentang keutamaan Ramadan dan pentingnya menjalani ibadah puasa, membantu siswa memahami makna dan tujuan Ramadan, hingga membantu siswa membangun hubungan yang lebih dekat dengan Allah SWT.
Lalu kegiatan apa saja yang bisa digelar di sekolah saat bulan Ramadan 2025? berikut menurut Google jika kita mengetik pencarian dengan kata kunci kegiatan pembelajaran di Sekolah Bulan Ramadhan.
Tadarus Al-Qur'an Bersama. Aktivitas membaca dan memahami Al-Qur'an tidak hanya sekadar melafalkan, tetapi juga merenungkan maknanya.
Kultum Harian.
Salat Berjamaah.
Muhasabah dan Doa Bersama.
Kajian Tematik.
Sholat Dhuha & Dzikir Bersama.
Secara Rinci berikut Beberapa kegiatan yang dapat dilakukan di sekolah selama bulan Ramadhan.
Kegiatan Ramadhan anak TK, PAUD, dan SD akan membuat bulan puasa lebih bermakna. Anak-anak dapat menjalankan ibadah puasa dan sekaligus melakukan aktivitas positif.
30 Contoh Kegiatan Bulan Ramadhan Anak Paud, TK, dan SD 2025 – Bagi anak-anak yang masih duduk di bangku Paud, TK, maupun SD, ibadah puasa merupakan salah satu hal yang cukup memberatkan karena harus menahan lapar dan haus dalam jangka waktu tertentu.
Untuk melatih anak-anak dalam berpuasa agar tetap semangat, guru dan orang tua harus kreatif dalam mengalihkan rasa lapar, haus, dan lesu anak-anak dengan mengajak melakukan kegiatan-kegiatan seru dan produktif.
Program kegiatan Ramadhan SD, TK, dan PAUD disesuaikan jenjangnya. Kegiatan Ramadhan anak TK dan PAUD lebih mudah dari SD. Simak pilihan programnya.
Contoh Program Kegiatan Ramadhan Anak PAUD
Kegiatan pondok Ramadhan PAUd dapat diisi dengan berbagai aktivitas yang menyenangkan. Usia PAUD mesti lebih banyak diajak untuk bersenang-senang. Meski demikian, kegiatan penuh keceriaan tersebut dapat dimasukkan nilai-nilai ajaran Islam di dalamnya.
Contoh program kegiatan Ramadhan PAUD seperti berikut:
Pawai Ramadan Ceria dengan berjalan kaki di sekitar kompleks sekoleh untuk mengingatkan datangnya bulan puasa.
Belajar membaca huruf hijaiyah seperti menggunakan metode IQRO'
Menggambar poster menyambut Ramadhan
Mewarnai gambar bertema bulan puasa atau Idulfitri
Menanam tanaman dalam gelas plastik bekas air mineral
Menempel hiasan pada kertas gambar
Mengenalkan dan berlatih menghafal surah Al-Fatihah
Mengenalkan surah-surah pendek dalam juz 30 Al-Qur'an dengan melantunkan bersama-sama
Mendengarkan cerita islami
Menyimak kisah-kisah sahabat Nabi yang dikemas dengan bahasa sederhana
Mengenalkan Allah sebagai pencipta dan pengatur kehidupan.
Mengenalkan nama-nama Allah dalam asmaul husna
Mengenalkan nama-nama malaikat Allah yang diketahui
Mengajak anak berbagi cerita menarik dari pengalaman hidupnya
Mengajak anak untuk saling berbagi hadiah dengan teman-temannya dengan nominal hadiah tidak besar. Misalnya hadiah berisi makanan ringan.
Bermain peran dengan alur kisah mengenai membantu sesama yang membutuhkan
Membiasakan anak tidur siang sebagai bagian dari ajaran Islam
Melafalkan doa berbuka puasa Ramadhan
Melafalkan doa sahur puasa Ramadhan
Mengajak anak belajar dan praktik berwudu
Membersihkan kelas bersama-sama
Saat datangnya waktu makan, anak-anak diajak untuk makan bersama dalam sebuah wadah besar demi menumbuhkan kebersamaan.
Belajar doa sebelum dan sesudah makan
Belajar doa sebelum dan sesudah tidur
Membiasakan anak saling mengucap salam ketika bertemu guru, teman, orang tua, dan orang lain yang beragama Islam.
1. Belajar Memasak Takjil Menu Berbuka
Contoh kegiatan bulan ramadhan anak Paud, TK, dan SD yang pertama adalah dengan mengajak mereka untuk belajar memasak.
Selain menyenangkan, belajar memasak Menu berbuka juga sangatlah bermanfaat bagi tumbuh kembang anak seperti melatih kemandirian, mengasah keterampilan dasar yang penting dalam hidup, mengenal buah dan sayuran atau bahan makanan lainnya, membantu mengenal rasa, dan lain sebagainya.
Selain itu, belajar memasak juga dapat memberikan semangat pada anak-anak karena hasil masakan yang mereka buat dapat dijadikan sebagai reward makanan ketika berbuka.
Ada banyak sekali jenis makanan yang bisa dibuat saat belajar memasak di bulan ramadhan dari yang mudah hingga sulit.
Namun,arena yang akan diajarkan adalah anak-anak usia dini maka sebaiknya memilih menu makanan yang mudah dibuat dan disukai anak-anak seperti kue atau makanan manis lainnya.
2. Menghafal Surat-Surat Pendek Al-Quran
Seperti yang sudah diketahui oleh sebagian umat muslim bahwa bulan ramadhan adalah bulan yang penuh dengan keberkahan. Di bulan ini, kita semua dianjurkan untuk memperbanyak ibadah kepada Allah SWT.
Bulan ramadhan dapat kamu jadikan sebagai momen untuk mengajarkan anak-anak dalam beribadah.
Kamu bisa mengajak dan mengajarkan anak-anak untuk membaca sekaligus menghafal surat-surat pendek dalam kitab suci Al-Quran.
Menghafal surat pendek Al-Quran adalah salah satu contoh kegiatan bulan ramadhan anak Paud, TK, dan SD yang seru dan bermanfaat untuk dilakukan.
Selain itu, menghafal Al-Quran juga dapat menjadi sarana bagi anak untuk mendapatkan pahala dan ridha dari Allah SWT.
Contoh Program Kegiatan Ramadhan Anak TK
Contoh kegiatan Ramadhan anak TK sebaiknya berbentuk lebih sederhana supaya mudah diterima peserta didik. Berikut ini ide untuk kegiatan Ramadhan yang dapat diberikan untuk anak TK:
Membuat kartu ucapan Ramadhan 2024
Membaca surat-surat pendek Al-Qur’an
Menempel hiasan dinding bergambar masjid
Belajar mengenal asmaulhusna
Mengisi buku kalender kebaikan selama bulan Ramadhan
Membersihkan kelas bersama-sama
Berbagi cerita seputar Ramadhan
Infak Ramadhan
Melafalkan doa berbuka puasa Ramadhan
Melafalkan doa sahur puasa Ramadhan
Belajar tentang perkara yang membatalkan puasa
Belajar tata cara salat tarawih
Belajar dan praktik berwudu
Belajar cara membantu orang tua memasak
Berbuka bersama
Membuat kartu ucapan Idulfitri
Berkunjung ke panti asuhan
Belajar menahan tidak berbicara di dalam masjid
Latihan menghafal doa masuk dan keluar masjid
Mengajak anak latihan salat fardu
Mengenalkan anak dengan ibadah sunah
Belajar doa masuk dan keluar kamar mandi
Belajar doa sebelum dan sesudah makan
Belajar doa sebelum dan sesudah tidur
Bertamu ke tokoh agama setempat untuk mendapatkan nasihat
1. Tadarus Al-Qur'an Bersama
Aktivitas membaca dan memahami Al-Qur'an tidak hanya sekadar melafalkan, tetapi juga merenungkan maknanya. Guru dapat membagi siswa ke dalam kelompok-kelompok kecil, membimbing mereka dalam membaca dengan tartil, dan menjelaskan tafsir ayat-ayat penting yang relevan dengan kehidupan sehari-hari. Tadarus dapat dilakukan secara rutin setiap hari sebelum atau sesudah jam pelajaran, menciptakan suasana yang tenang dan penuh berkah di lingkungan sekolah.
2. Kultum Harian
Memberikan kesempatan kepada siswa untuk berbagi ilmu dan pengalaman melalui kultum singkat sebelum salat zuhur atau ashar. Kultum ini dapat berisi motivasi, kisah-kisah inspiratif, atau penjelasan tentang nilai-nilai Islam yang praktis. Guru dapat memberikan tema yang berbeda setiap hari, mendorong siswa untuk menggali informasi, dan melatih kemampuan berbicara di depan umum.
3. Salat Berjamaah
Mengintensifkan pelaksanaan salat zuhur dan ashar berjamaah di masjid atau mushola sekolah. Selain melatih kedisiplinan, salat berjamaah juga mempererat ukhuwah Islamiyah di antara siswa dan guru. Sekolah dapat menunjuk imam dari kalangan siswa yang memiliki kemampuan membaca Al-Qur'an dan pengetahuan agama yang baik.
4. Muhasabah dan Doa Bersama
Menjelang waktu berbuka puasa, adakan kegiatan muhasabah (introspeksi diri) dan doa bersama. Siswa diajak untuk merenungkan perbuatan mereka selama seharian, memohon ampunan atas kesalahan, dan berdoa untuk kebaikan diri sendiri, keluarga, serta bangsa dan negara. Suasana yang khusyuk dan penuh harap dapat menyentuh hati siswa dan membangkitkan kesadaran spiritual.
5. Kajian Tematik
Mengadakan kajian atau diskusi tentang topik-topik menarik seputar Ramadhan dan Islam. Guru dapat mengundang tokoh agama atau ahli untuk memberikan materi, atau siswa dapat mempresentasikan hasil penelitian mereka tentang tema-tema tertentu. Kajian ini dapat membahas tentang hikmah puasa, keutamaan sedekah, sejarah peradaban Islam, atau isu-isu kontemporer yang relevan dengan nilai-nilai Islam.
6. Sholat Dhuha & Dzikir Bersama
Membiasakan sholat Dhuha dan berdzikir bersama di sekolah akan menanamkan nilai-nilai religius dan kedisiplinan. Kegiatan ini juga memberikan kesempatan bagi siswa untuk memohon rezeki dan keberkahan dari Allah SWT.
Kegiatan-kegiatan tersebut selain sebagai penanaman nilai-nilai keagaaman yaitu Nilai yang merupakan nilai yang bersumber dari Tuhan Yang Maha Esa juga dapat menjadi penanaman nilai sosial adalah nilai-nilai yang dianut masyarakat, baik yang bersumber dari agama maupun yang terbentuk dari kesepakatan masyarakat.
Demikian Tentang Program pembelajaran dan belajar disekolah selama Bulan Ramadhan yang dapat dilakukan untuk mengisi kegiatan selama Bulan Ramadhan untuk sekolah. Terimakasih sudah berkunjung di Blog-PAUD-Anak-BermainBelajar ini. semoga sukses selalu.
Akhmad Solihin 08.30.00 PAUD Anakbermainbelajar Indonesia
Contoh pembelajaran disekolah lembaga satuan PAUD di Bulan Ramadhan
PAUD-Anakbermainbelajar---Gerakan tujuh kebiasaan Anak Indonesia Hebat yang diluncurkan Kementrian pendidikan Dasar dan menengah Jumat 27 Desember 2024.
Acara ini diselenggarakan resmi kementrian Dikdasmen langsung dengan dilakukan juga melalui kanal Youtube Acara ini akan dimeriahkan dengan berbagai kegiatan menarik, termasuk:
🎶 Pengenalan:
* Album Lagu Anak dan Senam Anak Indonesia Hebat
🥳 Penampilan Hiburan:
* Drama musikal Kemah Anak Indonesia Hebat bersama Dwiki Dharmawan Light Orchestra
🌟 Penampilan Spesial:
* Mazaya & Sogi Indra Duaja
Yuk, saksikan acara inspiratif ini bersama seluruh keluarga!
Dalam mewujudkan visi Indonesia Emas 2045, diperlukan sumber daya manusia (SDM) unggul yang sejalan dengan Asta Cita ke-4, yakni memperkuat pembangunan sumberdaya manusia.
Dalam mewujudkan visi Indonesia Emas 2045, diperlukan sumber daya manusia (SDM) unggul yang sejalan dengan Asta Cita ke-4, yakni memperkuat pembangunan SDM, sains, teknologi, pendidikan, kesehatan, dan kesetaraan gender. SDM unggul ini harus memiliki delapan karakter utama: religius, bermoral, sehat, cerdas, kreatif, disiplin, mandiri, dan bermanfaat. Karakter-karakter tersebut hanya dapat terbentuk melalui pembiasaan positif yang berkelanjutan hingga akhirnya menjadi budaya. Dengan fondasi karakter yang kuat, generasi masa depan diharapkan tumbuh menjadi pribadi yang tangguh, unggul, dan mampu berkontribusi besar bagi bangsa.
Sebagai langkah strategis, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu’ti, meluncurkan program Gerakan Tujuh Kebiasaan Anak Indonesia Hebat. Program ini bertujuan untuk memperkuat pendidikan karakter melalui pembiasaan yang sederhana namun berdampak besar. Tujuh kebiasaan tersebut meliputi: Bangun Pagi, Beribadah, Berolahraga, Gemar Belajar, Makan Sehat dan Bergizi, Bermasyarakat, serta Tidur Cepat. Setiap kebiasaan dirancang tidak hanya untuk meningkatkan kesehatan fisik, tetapi juga untuk membentuk mental dan moral yang tangguh.
Melalui gerakan ini, anak-anak Indonesia diajak membangun kebiasaan positif sejak dini. Kebiasaan ini diharapkan menjadi pondasi kokoh bagi pembentukan karakter yang unggul, bermanfaat bagi diri sendiri, serta menjadi modal penting dalam membangun masa depan bangsa. Mari bersama kita wujudkan generasi sehat, cerdas, dan berkarakter demi Indonesia yang lebih baik!
---
Peluncuran gerakan 7 kebiasaan Anak Hebat Indonesia
1.Bangun Pagi
2.Rajin Beribadah
3.Rajin Berolahraga
4.Makan Makanan Sehat
5.Giat Belajar
6.Bermasyarakat
7.Tidur Lebih Cepat
Ikuti informasi pendidikan melalui kanal berikut:
Laman: kemdikbud.go.id
X: x.com/Kemdikdasmen
Instagram: instagram.com/kemendikdasmen
Facebook: facebook.com/kemendikdasmen
YouTube: KEMDIKDASMEN
GERAKAN 7 KEBIASAAN ANAK INDONESIA HEBAT TAHUN 2025
PAUD-Anakbermainbelajar-blog---Pembelajaran pada anak usia dini bertujuan untuk mengembangkan seluruh potensi anak, kemampuan fisik, intelektual, emosional, moral dan agama serta seni secara optimal, agar kelak dapat berfungsi sebagai manusia utuh sesuai dengan falsafah bangsa. Hasil belajar tersebut dapat berupa ketrampilan motoriK atau “psikomotorik” yang dapat diperoleh melalui pembelajaran gerak lagu dan seni tari yang merupakan salah satu bagian dari pendidikan seni. Landasan konseptual pendidikan seni adalah Pendidikan kesenian merupakan Pendidikan ekspresi kreatif yang dapat mengembangkan kepekaan apresiasi estetik yang diharapkan dapat membentuk kepribadian manusia seutuhnya seimbang baik secara lahir maupun batin, jasmani maupun rohani.
Pendidikan seni berupaya untuk memberikan kegiatan pembelajaran yang akan menghasilkan kemampuan dan ketrampilan pada anak. Pendidikan seni untuk anak usia dini tidak bisa disamakan dengan pendidikan seni untuk orang dewasa, karena perbedaan karakter fisik, psikologis,mental dan fungsinya. Hal ini penting dipahami sebagai dasar dalam melakukan evaluasi dan menentukan standar nilai estetik dari hasil dan proses anak dalam berkarya seni.
Terkait dengan pembelajaran seni di PAUD khususnya untuk anak usia dini yang berhubungan dengan keterampilan fsikomotorik, afektif dan kognitif dengan kegiatan bermain dapat diimplementasikan dalam pembelajaran gerak dan lagu serta pembelajaran seni tari. Pendidikan seni tari pada anak usia dini berfungsi sebagai sarana untuk mengembangkan kemampuan mengekspresikan diri melalui gerak, kemampuan persepsi, pengetahuan, pemahaman artistik dan estetik anak, serta mengembangkan mengembangkan kemampuan mengapresiasi keragaman seni sebagai pembentukan sikap menghargai kesenian. Penulisan ini bertujuan untuk mendeskripsikan implementasi pembelajaran gerak tari serta pembelajaran seni tari dasar untuk mengembangkan semua aspek pertumbuhan dan perkembangan anak usia dini.
Baca : juga Perkembangan Gerakan Motorik Anak Usia Dini di sini
Pembelajaran gerak dasar tari bagi anak sewajarnya diselaraskan dengan kemampuan anak, tahap perkembangan jiwa anak, dan lingkungan hidup mereka sehari-hari. Jika kita menyusun bahan pembelajaran gerak dasar tari tanpa menghiraukan aspek-aspek yang menjadi ciri utama keadaan jasmani dan rohani anak tersebut, kemungkinan besar tujuan utama pelajaran pendidikan seni tari tidak akan tercapai. Demikian juga dengan target yang ingin dicapai dari pelajaran praktik gerak dasar tari akan terhambat.
Beberapa hambatan yang akan dialami oleh anak-anak diantaranya ialah mereka sulit memperagakan atau melakukan gerak dasar tari yang telah diajarkan. Akibatnya, mereka kurang antusias belajar dan semangatnya justru semakin berkurang. Selain itu, hal tersebut juga membuat mereka tieak percaya diri sehingga mereka tidak merasa bebas dalam mengungkapkan kreativitasnya. zUntuk mengatasi hambatan yang merugikan anak dan berakibat gagalnya pencapaian pembelajaran grak dasar tari ini, seyogyanya kita tidak mengabaikan permasalahan tersebut.
Untuk memperoleh hasil yang lebih baik, pada tahap awal mengajar upayakan agar tidak menirukan sejumlah perbendaharaan sikap dan gerak tari daerah serta ragamnya yang telah baku. pencapaian pengajaran bukan menuntut agar siswa memperagakan aetepat-tepatnya sejumlah sikap dan gerak dasar yang terikat norma-norma estetika tari daerah yang sudah baku. Artinya bahan pelajaran tersebut perlu dipandang secara kreatif, tidak dianggap secara ketat , dan perlu mempertimbangkan beberapa hal yang disebutkan di atas.
Oleh karena itu, sebaiknya sampaikan sejumlah bahan praktik yang mengarah kepada latihan-latihan gerak tubuh terlebih dahulu upayakan mereka dapat mengekspresikan seluruh tubuhnya, sebab perlu dipahami bahwa tubuh sebagai alat ekspresi. Dengan demikian susunlah bahan pelajaran yang menitikberatkan kepada hal-hal berikut:
- Belajar cara menggerakan setiap bagian anggota tubuh sampai seluruh gerakan berirama;
- Belajar memanfaatkan gerak-geraknya yang berirama tersebut dalam ruang, dan;
- Belajar cara memanfaatkan gerak tersebut sebagai media untuk mengekspresikan pengalaman dan kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari seperti bermain, bergerak, dan berirama.
- Anak akan terlatih menggerakan setiap anggota tubuh sampai seluruh tubuhnya
- Anak akan berlatih mengungkapkan gerak-geraknya yang berirama
- Anak akan terlatih memanfaatkan gerak-gerak yang berirama dalam ruang
- Anak akan berlatih memanfaatkan gerak-gerak yang berirama sebagai wujud dari pengalaman dan imajinasinya.
- Anak akan merasa senang karena pengalaman yang betul-betul baru dan dekat dengannya, sehingga tidak membuat dirinya terbebani di luar batas kemampuannya dan membuat anak terpaksa jiwa raganya untuk aktif.
2. Pengertian Gerak
Dalam menggunakan konsep gerak dapat digunakan empat macam bentuk:
- Konsep gerak dalam bentuk dasar
- konsep gerak dalam bentuk pola
- konsep gerak dalam bentuk koreografi
- konsep gerak dalam bentuk reflek atau eksplor
Akhmad Solihin 09.08.00 PAUD Anakbermainbelajar Indonesia
MENGENAL GERAK DASAR TARI YANG SESUAI PADA ANAK PAUD
PAUD Anakbermainbelajar-Blog--- Awal Tahun pelajaran baru telah dimulai dengan kegiatan awal berupa Masa Pengenalan sekolah (MPLS).
Transisi PAUD ke Sekolah Dasar menjadi masa yang penting bagi anak-anak. Mereka akan masuk jenjang pendidikan yang lebih tinggi sekaligus masuk pada lingkungan baru. Sekolah perlu menyiapkan agar masa MPLS bagi peserta didik baru yang secara psikologis juga memasuki jenjang sekolah dengan struktur pembelajaran yang berbeda. Pelibatan orang tua dalam masa MPLS sangat penting untuk kesuksesan adaptasi anak.
Memahami Tujuan MPLS
Sebelum merancang kegiatan MPLS, penting untuk memahami tujuan utamanya. MPLS bukan hanya sekadar orientasi, tetapi juga momen penting untuk membangun fondasi yang kuat bagi siswa baru. Tujuan utama MPLS adalah membantu siswa mengenal lingkungan sekolah, membiasakan diri dengan jadwal dan kegiatan sekolah, serta mengenal guru dan staf. Selain itu, MPLS juga bertujuan untuk mengembangkan keterampilan sosial siswa, seperti kerjasama, komunikasi, dan kepemimpinan. Adaptasi ketrampilan sosial sangat prioritas bagi transisi anak dari PAUD ke SD.
Perencanaan yang matang adalah kunci untuk menyelenggarakan MPLS yang sukses. Sekolah perlu membentuk tim khusus yang bertanggung jawab atas pelaksanaan MPLS. Tim ini harus terdiri dari guru, staf, dan siswa lama/kelas atas yang terlatih untuk membimbing siswa baru khususnya untuk menemani masa transisi. Langkah pertama dalam perencanaan adalah menyusun jadwal kegiatan yang jelas dan terstruktur. Kegiatan harus dirancang sedemikian rupa sehingga memberikan informasi yang dibutuhkan siswa tanpa membuat mereka merasa terbebani atau stres. Kebiasaan-kebiasaan di PAUD seperti belajar sambil menyanyi dan bermain penting dilakukan pada fase adaptasi MPLS.
Kegiatan yang Edukatif dan Menyenangkan
Kegiatan selama MPLS harus bersifat edukatif dan menyenangkan. Kegiatan tersebut dapat mencakup berjalan keliling sekolah, pengenalan fasilitas, sesi informasi tentang aturan dan norma sekolah, serta berbagai permainan dan aktivitas yang mendukung interaksi sosial. Permainan dan aktivitas kelompok dapat membantu siswa baru merasa lebih nyaman dan terintegrasi dengan teman-teman baru mereka. Pastikan juga untuk menyertakan sesi perkenalan dengan guru dan staf, sehingga siswa merasa lebih dekat dan lebih mudah untuk berkomunikasi. Mempertimbangkan transisi pembelajaran dari PAUD ke SD menjadi penting.
Perpeloncoan atau praktik-praktik yang merendahkan martabat siswa baru harus dihindari sepenuhnya. Perpeloncoan tidak hanya merusak tujuan MPLS, tetapi juga dapat menyebabkan trauma psikologis dan menciptakan lingkungan yang tidak aman bagi siswa. Sekolah harus memiliki kebijakan tegas terhadap perpeloncoan dan memastikan bahwa semua pihak, termasuk siswa senior, guru, dan staf, memahami dan mematuhi kebijakan tersebut. Apalagi bagi jenjang Sekolah Dasar, transisi dari PAUD ke SD harus dalam situasi yang menyenangkan.
Lingkungan yang inklusif adalah lingkungan yang menerima dan menghargai perbedaan. Sekolah harus memastikan bahwa semua siswa, tanpa memandang latar belakang, memiliki kesempatan yang sama untuk berpartisipasi dalam kegiatan MPLS. Ini berarti memberikan perhatian khusus kepada siswa dengan kebutuhan khusus atau siswa yang mungkin menghadapi tantangan tertentu dalam beradaptasi. Membentuk kelompok yang beragam selama aktivitas MPLS dapat membantu menciptakan rasa kebersamaan dan menghargai perbedaan. Selain itu, para siswa juga perlu dipahamkan, bahwa segala tidak bullying dan kekerasan adalah dilarang, baik secara fisik, verbal, maupun digital. Anak-anak juga belajar saling menghargai dan saling menghormati satu dengan yang lain sejak mereka pertama kali sekolah.
Melibatkan orang tua dalam MPLS dapat membantu memperkuat hubungan antara sekolah dan keluarga. Sekolah dapat mengadakan sesi pertemuan dengan orang tua untuk memberikan informasi tentang kegiatan MPLS dan tujuan-tujuannya. Ini juga merupakan kesempatan bagi orang tua untuk mengenal lebih dekat lingkungan sekolah dan staf pengajar. Melibatkan orang tua dapat memberikan rasa aman tambahan bagi siswa baru, karena mereka tahu bahwa orang tua mereka juga mendukung dan terlibat dalam proses adaptasi mereka. Apalagi adaptasi ini bertransformasi dari PAUD ke SD.
Kesehatan dan keamanan siswa harus menjadi prioritas utama selama MPLS. Informasi antar jemput, dan pusat informasi sekolah terkait penjemputan harus diupayakan. Dalam hal sarana dan prasarana, merespon situasi seperti sekarang yang cuacanya kadang tidak menentu, sekolah harus memperhatikan berbagai kemungkinan, serta menyiapkan fasilitas kesehatan dan sarana prasarana pendukung, seperti penyediaan fasilitas cuci tangan yang memadai. Selain itu, pastikan bahwa lingkungan fisik sekolah aman dan bebas dari potensi bahaya. Selalu ada staf yang siap membantu dan ruang Unit Kesehatan Sekolah (UKS) jika ada siswa yang membutuhkan bantuan medis, serta ada guru yang menjadi rujukan jika ada mengalami kesulitan selama kegiatan.
Mempersiapkan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) yang aman dan nyaman bagi anak memerlukan perencanaan yang matang, apalagi adaptasi pada masa transisi PAUD ke SD. MPLS sudah seharuanya merupakan kegiatan yang edukatif dan menyenangkan, serta lingkungan yang inklusif dan bebas dari perpeloncoan. Dengan melibatkan orang tua, mengutamakan kesehatan dan keamanan, serta menyediakan dukungan lanjutan, sekolah dapat menciptakan pengalaman MPLS yang positif dan bermanfaat bagi siswa baru. Implementasi yang baik dari MPLS akan membantu siswa merasa lebih nyaman, percaya diri, dan siap menghadapi tantangan di lingkungan sekolah yang baru.
Kegiatan MPLS di satuan PAUD mulai sejak masa persiapan penerimaan peserta didik baru sampai pada tahapan kegiatan MPLS hingga puncaknya pada kegiatan puncak MPLS. Beragam kegiatan MPLS Yang dilakukan satuan PAUD hingga puncaknya. Untuk lebih mempertajam puncak pengenalan sekolah beserta lingkungan, karakteristik dan potensi kearifan lokal lingkungan sekolah.
Kegiatan Puncak MPLS PAUD
Contoh kegiatan Puncak MPLS
Akhmad Solihin 07.18.00 PAUD Anakbermainbelajar Indonesia

















