PAUD-Anakbermainbelajar---Gerakan tujuh kebiasaan Anak Indonesia Hebat yang diluncurkan Kementrian pendidikan Dasar dan menengah Jumat 27 Desember 2024.
Acara ini diselenggarakan resmi kementrian Dikdasmen langsung dengan dilakukan juga melalui kanal Youtube Acara ini akan dimeriahkan dengan berbagai kegiatan menarik, termasuk:
🎶 Pengenalan:
* Album Lagu Anak dan Senam Anak Indonesia Hebat
🥳 Penampilan Hiburan:
* Drama musikal Kemah Anak Indonesia Hebat bersama Dwiki Dharmawan Light Orchestra
🌟 Penampilan Spesial:
* Mazaya & Sogi Indra Duaja
Yuk, saksikan acara inspiratif ini bersama seluruh keluarga!
Dalam mewujudkan visi Indonesia Emas 2045, diperlukan sumber daya manusia (SDM) unggul yang sejalan dengan Asta Cita ke-4, yakni memperkuat pembangunan sumberdaya manusia.
Dalam mewujudkan visi Indonesia Emas 2045, diperlukan sumber daya manusia (SDM) unggul yang sejalan dengan Asta Cita ke-4, yakni memperkuat pembangunan SDM, sains, teknologi, pendidikan, kesehatan, dan kesetaraan gender. SDM unggul ini harus memiliki delapan karakter utama: religius, bermoral, sehat, cerdas, kreatif, disiplin, mandiri, dan bermanfaat. Karakter-karakter tersebut hanya dapat terbentuk melalui pembiasaan positif yang berkelanjutan hingga akhirnya menjadi budaya. Dengan fondasi karakter yang kuat, generasi masa depan diharapkan tumbuh menjadi pribadi yang tangguh, unggul, dan mampu berkontribusi besar bagi bangsa.
Sebagai langkah strategis, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu’ti, meluncurkan program Gerakan Tujuh Kebiasaan Anak Indonesia Hebat. Program ini bertujuan untuk memperkuat pendidikan karakter melalui pembiasaan yang sederhana namun berdampak besar. Tujuh kebiasaan tersebut meliputi: Bangun Pagi, Beribadah, Berolahraga, Gemar Belajar, Makan Sehat dan Bergizi, Bermasyarakat, serta Tidur Cepat. Setiap kebiasaan dirancang tidak hanya untuk meningkatkan kesehatan fisik, tetapi juga untuk membentuk mental dan moral yang tangguh.
Melalui gerakan ini, anak-anak Indonesia diajak membangun kebiasaan positif sejak dini. Kebiasaan ini diharapkan menjadi pondasi kokoh bagi pembentukan karakter yang unggul, bermanfaat bagi diri sendiri, serta menjadi modal penting dalam membangun masa depan bangsa. Mari bersama kita wujudkan generasi sehat, cerdas, dan berkarakter demi Indonesia yang lebih baik!
---
Peluncuran gerakan 7 kebiasaan Anak Hebat Indonesia
1.Bangun Pagi
2.Rajin Beribadah
3.Rajin Berolahraga
4.Makan Makanan Sehat
5.Giat Belajar
6.Bermasyarakat
7.Tidur Lebih Cepat
Ikuti informasi pendidikan melalui kanal berikut:
Laman: kemdikbud.go.id
X: x.com/Kemdikdasmen
Instagram: instagram.com/kemendikdasmen
Facebook: facebook.com/kemendikdasmen
YouTube: KEMDIKDASMEN
GERAKAN 7 KEBIASAAN ANAK INDONESIA HEBAT TAHUN 2025
PAUD-ANAK Bermain-belajar---Mengenal Digital Parenting, Pola Asuh di Era Digital agar Anak Menjadi Generasi Emas.
Di Era digital yang penuh dengan dimensi perkembangan teknologi Digital ini, yang menimbulkan sejumlah persoalan dan tantangan bagi kita selaku orang tua dalam pola pengasuhan anak. lengah sedikit saja, anak bisa menjadi korban dampak negative teknologi salahsatu misalnya anak dapat kecanduan handphone (HP) yang berujung pada masalah mental, seperti gangguan tidur, tantrum, dan masalah s.osialiasi anak yang menjadi pribadi tertutup dan rendah diri.
Menjauhkan anak dari HP serta teknologi digital juga bukan merupakan solusi terbaik. Bagaimanapun, orangtua tak terlepas pula dari HP di era digital. Selama orangtua memakai HP/smart Phone dan gatget lainnya, anak akan penasaran ingin mencobanya.
Untuk mengatasi masalah itu, orangtua dapat menerapkan pola asuh digital parenting. Pola asuh ini juga dapat melindungi anak-anaknya dari risiko paparan konten negatif yang beredar.
PENGERTIAN DIGITAL PARENTING
Digital parenting atau pengasuhan digital merupakan pengasuhan yang memberikan Batasan yang jelas kepada anak tentang hal-hal yang boleh maupun yang tidak boleh dilakukan pada saat menggunakan perangkat digital.
Digital parenting sendiri adalah merupakan suatu pola asuh inovatif di era serbadigital. Dengan digital parenting, orangtua memberikan pengetahuan kepada anak Orangtua juga membimbing serta mengawasi anak saat mengakses HP dan internet.
Berikut Hal-hal penting yang dapat dipraktikkan orangtua saat menerapkan digital parenting :
1. Hindarkan anak dari mengakses konten yang tak sesuai ajaran moral
Sebagai orangtua, Anda memiliki tanggung jawab besar dalam membentuk moralitas anak. Oleh karena itu, Anda perlu memberikan pengetahuan kepada anak terkait konten apa saja yang tidak boleh diakses karena tidak sesuai dengan nilai moral, seperti kekerasan, bahasa kasar, seksual, atau kebencian dari jangkauan anak. Dengan memberikan pemahaman, Anda pun secara langsung menghindarkan anak paparan konten negatif. Jangan lupa, selalu awasi anak saat mereka mengakses HP. Saat mereka tiba-tiba mengakses konten negatif, segera beri pemahaman kenapa konten yang sedang mereka buka tidak baik bagi anak.
2. Ajarkan untuk laporkan konten negatif
Selain memberi pemahaman dan menghindarkan anak dari mengakses konten negatif, Anda juga bisa mengajarkan anak untuk melaporkan konten tersebut. Hal ini akan membantunya untuk menjadi pribadi yang bertanggung jawab. Anak juga akan semakin peka terhadap konten yang tidak pantas atau merugikan. Selain itu, berikan juga pemahaman bahwa melaporkan konten negatif bukanlah tindakan yang salah atau mengadu-domba, melainkan tindakan untuk menjaga keamanan dalam komunitas digital.
3. Gunakan aplikasi parental control untuk batasi akses digital anak
Tak sekadar memberikan pemahaman, orangtua juga dapat melakukan langkah preventif dengan menggunakan aplikasi parental control. Aplikasi itu dapat membatasi, menyaring, dan memantau aktivitas anak dalam mengakses konten digital melalui HP. Baca juga: Pahami 5 Prinsip Dasar dalam Digital Parenting
4. Buat aturan jelas terkait durasi akses HP dan internet
Cara paling efektif agar anak tidak kecanduan internet atau HP adalah dengan membatasi secara jelas durasi waktunya. Selain dapat menjaganya dari konten negatif, pembatasan durasi penggunaan teknologi juga akan membantu anak untuk menyeimbangkan kehidupannya sebagai anak-anak. Saat anak sedang tidak mengakses internet atau HP, Anda dapat melakukan berbagai kegiatan lain, seperti bermain atau bercerita dengannya. Kegiatan ini dapat meningkatkan kemampuan anak dalam mengembangkan hubungan sosial.
5. Manfaatkan game edukasi
Pada dasarnya, bermain adalah aktivitas alami yang disukai anak. Hal ini bisa Anda gunakan sebagai sarana belajar. Agar anak mendapatkan manfaat optimal dari penggunaan perangkat digital, terutama dari segi pembelajaran, Anda bisa mengajaknya bermain game edukasi. Game edukasi dirancang untuk memantik anak bermain sekaligus belajar. Game ini juga dapat merangsang imajinasi dari mereka. Metode pembelajaran melalui game edukasi dapat mengurangi rasa bosan, memotivasi, dan menghibur.
6. Manfaatkan platform belajar digital
Selain platform game edukasi, Anda juga bisa memanfaatkan platform belajar digital. Adapun platform ini dihadirkan dengan segudang fitur pembelajaran yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan anak dari berbagai tingkat. Dengan manfaat tersebut, Anda dapat meningkat kualitas belajar anak dengan cara yang lebih interaktif. Ruangguru, misalnya, hadir dengan metode yang cukup lengkap dan interaktif dalam bentuk video untuk semua tingkatan, mulai dari sekolah dasar (SD) hingga sekolah menengah atas (SMA). Tak hanya itu, Ruangguru juga memiliki fitur live chat yang memudahkan peserta didik berdiskusi secara langsung agar anak dapat mendapatkan hasil pembelajaran yang optimal. Ada juga aplikasi Rumah Belajar yang disediakan oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbud Ristek) dengan materi pelajaran SD hingga SMA.
Metode pembelajaran pada platform ini dirancang oleh para ahli pendidikan dan disesuaikan dengan kurikulum pendidikan nasional. Kemudian, ada aplikasi Quipper dan Zenius yang punya materi pelajaran interaktif, seperti video dan soal latihan. Kedua platform ini juga punya fitur penilaian, kuis harian, simulasi ujian, serta chat untuk interaksi dengan guru dan teman sekelas. Tak ketinggalan, Anda juga bisa mencoba platform e-learning, seperti Khan Academy dan Kahoot. Untuk Khan Academy, aplikasi ini menyediakan materi pelajaran gratis dalam bentuk video serta fitur latihan soal dan ujian praktik. Ada pula program pembelajaran untuk kegiatan belajar di rumah, tutorial tentang keterampilan khusus, dan komunitas belajar yang aktif. Sementara Kahoot, anak dapat mengikuti kuis atau game pembelajaran yang disesuaikan dengan kurikulum dan kebutuhan siswa. Aplikasi ini punya fitur kolaborasi dan dapat digunakan secara gratis.
Itulah enam penerapan digital parenting agar anak semakin berprestasi di era digital. Untuk memaksimalkan upaya tersebut, pastikan jaringan internet di rumah senantiasa lancar agar proses belajarnya tak terhambat. Anda bisa menggunakan internet dari Indihome yang punya kualitas jaringan cepat dan terbaik. Sebagai informasi, Indihome menyediakan paket bundling dengan konten edukasi yang beragam. Di IndiHome, orangtua dapat memilih paket internet sesuai kebutuhan keluarga dan fitur-fitur yang aman untuk anak, seperti IndiHome Edukasi, IndiHome Study, serta IndiHome Kids. Untuk IndiHome Edukasi, paket ini menawarkan akses online ke konten pendidikan dari SD hingga SMA, termasuk video pembelajaran, latihan soal, dan ulangan online. Layanan ini memudahkan anak-anak untuk memahami dan menguasai materi pelajaran dengan mudah.
Sementara itu, pada IndiHome Study, paket ini dirancang khusus untuk memudahkan proses belajar anak. Terdapat berbagai fitur yang ada pada paket ini, seperti Online Class, Virtual Library, dan Online Exam. Semua fitur tersebut hadir untuk membantu anak-anak yang belajar di rumah dengan efektif. Kemudian, IndiHome Kids adalah paket yang menyediakan konten edukasi yang bermanfaat untuk anak-anak. Layanan ini menyediakan video pembelajaran, lagu anak, dan permainan untuk membantu anak agar dapat belajar dengan cara menyenangkan.
Dengan memanfaatkan fitur dan layanan yang disediakan oleh IndiHome dari Telkom Indonesia, orangtua dimudahkan dalam penerapan digital parenting. Bagi Anda yang ingin berlangganan dan menikmati fitur edukasi anak dari IndiHome, silakan kunjungi tautan berikut ini:
https://indihome.co.id/tv/edukids
Demikian tentang DIGITAL PARENTING Mencetak anak Generasi Emas, Mengenal Digital Parenting, Pola Asuh di Era Digital agar Anak Menjadi Generasi Emas, semoga bermanfaat.
DIGITAL PARENTING - Mencetak anak Generasi Emas
Gambar di atas adalah pola dasar Mindful Parenting, dalam bahasa Indonesia “Mengasuh Berkesadaran”. Terkesan sedikit berbeda bahkan cenderung unik bagi banyak orang. Setelah terbiasa menerapkan konsep ini, membuat kita malu pada diri sendiri. Prinsip yang begitu mendasar yang seharusnya sudah kita ketahui sebelum kita mendidik anak.
Konsep Dasar Mengasuh Berkesadaran (Mindful Parenting)
Apa yang harus dipraktikkan oleh orangtua kepada anak usia dini tersebut? Berikut penerapan dimensi Mindful Parenting pada anak usia dini.
a. mendengarkan dengan penuh perhatian dan berbicara dengan empati. Kita bisa memberikan contoh untuk mendengarkan anak-anak dengan baik ketika mereka berbicara walaupun mereka lebih kecil. Serta memposisikan diri kita diposisi mereka sehingga kita akan tahu persis bagaimana kita ingin diperlakukan.
b. tidak menghakimi anak dengan perkataan yang kasar apalagi yang berakibat fatal sampai melabel mereka yang terbawa sampai mereka dewasa dan sangat mempengaruhi rasa percaya dirinya. Misalnya memanggil mereka dengan sebutan: si pesek, si cebol dan lain lain.
c. mampu mengendalikan emosi dan tidak semua permintaan mereka kita akhiri dengan kalimat penolakan dan amarah.Melainkan kita benar benar memberikan alasan dari penolakan kita sampai anak bisa menerimanya.
d. mendidik mereka dengan bijaksana dengan tidak memberikan mereka sesuatu yang berlebihan. Hal yang akan membuat mereka menjadi superior, bila kita misalnya selalu memuji anak berlebihan.
e. mengajarkan anak tentang bagaimana menjadi anak yang penuh welas asih walaupun hanya mengajak mereka memasukan koin ke dalam celengan setiap mereka habis minum susu dengan harapan “semoga banyak anak-anak lain yang bisa minum susu dan berobat”.
MINDFUL PARENTING - MENGASUH BERKESADARAN
PAUD-Anakbermainbelajar----Sehari-hari dalam melakukan kegiatan pendidikan dan pengembangan anak, mungkin, kita sering atau pernah mendengar ungkapan “kamu bodoh” atau mendengar saudara sepupunya yaitu "Guoblok". Kita sering mendengar atau bahkan mungkin sengaja maupun tidak sengaja kita pernah mengucapkan kata-kata berkonotasi negatif tersebut.
Ungkapan ini memang sering sekali kita temui, baik di rumah maupun di sekolah. Biasanya kata-kata ‘kamu bodoh’ diucapkan untuk menggambarkan kondisi peserta didik, baik secara individu maupun berkelompok. Karena sering diucapkan di lingkungan pendidikan, maka bisa dipastikan yang mengucapkan kata-kata tersebut tidak lain daripada pendidik (guru). Tetapi tidak tertutup kemungkinan yang mengatakan demikian adalah orang tua sebab, kita tahu, orang tua adalah pendidik utama. Menjadi pertanyaan, pantaskah mengatakan ‘bodoh’ kepada anak?? Adakah dampak mengatakan mengatakan perkataan negatif kepada anak?
Kata ‘bodoh’ menurut kamus bahasa Indonesia memiliki arti tidak lekas mengerti; tidak mudah tahu atau tidak dapat mengerjakan, dan sebagainya. Bodoh juga berarti tidak memiliki pengetahuan. Ketika orang tua mengatakan “kamu bodoh” kepada anaknya, berarti orang tua berpandangan bahwa anaknya tidak lekas mengerti, tidak mudah tahu, tidak dapat mengerjakan, atau tidak memiliki pengetahuan.
Sedangkan Kebodohan dalam Wikipedia: adalah keadaan dan situasi di saat kurangnya pengetahuan terhadap sesuatu informasi yang bersifat subjektif. Hal ini tidak sama dengan tingkat kecerdasan yang rendah (kedunguan), seperti kualitas intelektual dan tingkat pendidikan yang dimiliki seseorang. Kata "bodoh" adalah kata sifat yang menggambarkan keadaan di saat seseorang tidak menyadari sesuatu hal, tetapi masih memiliki kemampuan untuk memahaminya. Istilah bodoh dapat ditempatkan seperti dalam kalimat "Seseorang memiliki kemahiran dalam matematika, tetapi sama sekali bodoh dalam ilmu bahasa". Di sisi lain secara umum, kata bodoh sering ditempatkan seperti dalam kalimat "Orang itu bodoh karena membiarkan hal itu terjadi". Penggunaan istilah bodoh pada contoh kalimat yang kedua tersebut bermakna sebuah ucapan penghinaan yang merendahkan kualitas kecerdasan seseorang, tetapi sebenarnya itu tidak tepat dalam hal makna sebenarnya.
Nah, dalam pembahasan kali ini, ‘bodoh’ yang saya maksudkan adalah suatu keadaan dimana tidak bisa melakukan, tidak bisa mengerjakan, tidak bisa menjawab soal, atau tidak memiliki pengetahuan. Fakta menyatakan bahwa anak merupakan individu yang berada dalam taraf tidak bisa melakukan, tidak bisa
Dalam situasi dimana anak tidak bisa melakukan, tidak bisa mengerjakan sesuatu hal atau menjawab pertanyaan secara tepat, tidak jarang, orang tua mengungkapkan kekecewaannya atas situasi tersebut dengan melontarkan kata-kata seperti ‘kamu bodoh’, ‘bodoh lu’, atau ‘lu pung bodok lai’, atau kata-kata sejenis. Ada orang tua yang tidak merasa bersalah ketika mengatakan demikian. Fenomena semacam ini pada umumnya disebabkan oleh ketidaktahuan akan dampak yang mungkin ditimbulkan oleh kata-kata tersebut. Ada juga karena telah ada kesepakatan sebelumnya dengan anak, manakala mereka tidak bisa melakukan, tidak bisa mengerjakan, atau tidak bisa menjawab, maka mereka akan dikatakan bodoh. Yang terakhir ini berhubungan dengan manajemen interaksi interpersonal dalam keluarga. Meski demikian, untuk menghindari kesan penghinaan terhadap anak, saya mengusulkan kepada orang sekalian petang ini agar sebaiknya tidak mengatakan bodoh terhadap anak.
Pertimbangan saya adalah:
1. Anak jelas merupakan individu yang memang tidak lekas mengerti, tidak mudah tahu, tidak dapat mengerjakan, atau tidak memiliki pengetahuan. Kalau anak lekas mengerti, mudah tahu, dapat mengerjakan, atau memiliki pengetahuan, maka mereka tidak membutuhkan orang tua. Sebab mereka bisa belajar secara mandiri dan sama sekali tidak membutuhkan direct (arahan) dari siapa pun.
2. Setiap anak memiliki kemampuan yang berbeda-berbeda. Anak yang satu tidak sama dengan anak yang lain. Kalau ada anak yang minim dalam mata pelajaran matematika, fisika, atau ilmu-ilmu eksakta lainnya, belum tentu ia minim juga dalam mata pelajaran bahasa inggris, bahasa indonesia, dsb. Begitu pula, mungkin ada anak yg maximal dalam mata pelajaran eksakta tetapi belum tentu ia maksimal dalam mata pelajaran non eksakta. Jadi, adalah tidak perlu mengatakan ‘bodoh’ kepada anak hanya karena ia minim dalam mata pelajaran atau hal tertentu.
Dalam hal ini saya sependapat dengan teori multiple intelligence atau kecerdasan majemuknya seorang psikolog asal AS, Howard Gardner menyatakan bahwa: Kecerdasan (inteligensi) tidak terdiri dari satu yang umum dan beberapa yang khusus, melainkan memang benar-benar ada beberapa inteligensi khusus yang masing-masing mandiri, yaitu kecerdasan bahasa (linguistic), logika matematika (logic-mathematical), ruang (spatial), gerak tubuh (bodily-kinesthetic), musik (musical), antarpribadi (interpersonal), dan ke dalam diri (intrapersonal), serta kecerdasan tentang alam (naturalistic intelligence).
Sudah seharusnya orang tua mengetahui bahwa anak adalah individu yang tidak lekas mengerti, tidak mudah tahu, tidak dapat mengerjakan, atau tidak memiliki pengetahuan, sehingga tidak lekas mengatakan ‘bodoh’. Maksud saya, setiap orang tua hendaknya menahan diri untuk tidak mengatakan ‘bodoh’, baik secara lisan maupun tulisan, kepada anak. Tujuannya tentu saja supaya anak bebas dari konsep diri ‘bodoh’ yang dilontarkan oleh orang tua. Kita tahu, bodoh selalu berasosiasi negatif. Jika kata ini terlanjur disematkan kepada anak, bukan tidak mungkin ia akan membangun konsep diri secara negatif sesuai dengan kata yang disematkan kepadanya. Akibatnya, anak tidak akan tertantang untuk berkembang.
Dalam kaitannya dengan kecerdasan, orang tua seharusnya mengetahui kecerdasan anak. Orang tua yang mengetahui kecerdasan anaknya tidak akan memaksakan anaknya untuk menguasai suatu bidang tertentu yang bukan passion anaknya. Orang tua yang demikian akan dengan mudah menyesuaikan gaya membimbing anaknya. Jangan lupa, sejak kecil anak sudah memperlihatkan minatnya terhadap bidang tertentu. Karena itu, adalah tugas orang tua dan guru untuk mengakomodir minat anak atau anak didiknya. Ingat, mengakomodir dalam arti memfasilitasi, bukan memaksakan anak supaya beralih kepada bidang lain.
Inilah alasan sebaiknya tidak mengatakan anak ‘bodoh’?
Admint bilang sebaiknya karena ada anggapan bahwa kalau ada kesepakatan antara anak dengan orang tua atau guru maka diperbolehkan.
1. Karena anak sedang berada pada fase pertumbuhan dan perkembangan baik secara psikis, maupun fisik. Pada tahap ini anak memerlukan hal-hal yang bersifat konstruktif dan berguna bagi pertumbuhan dan perkembangan kepribadian mereka.
2. Karena sebagai individu yang sedang bertumbuh dan berkembang ke arah kedewasaan, anak memiliki emosi yang tidak stabil. Mereka akan dengan mudah kehilangan semangat dan rasa percaya diri manakala mendapat label yang kontra produktif dengan pertumbuhan dan perkembangan emosi mereka. Bukan tidak mungkin akan berdampak pada terganggunya kondisi emosi mereka.
3. Karena dalam masa pertumbuhan dan perkembangan, anak
sedang berupaya membangun konsep diri (self concept). Apabila informasi yang mereka terima dari luar bersifat negatif, maka konsep diri mereka pun cenderung negatif. Jarang ditemui anak yang mampu menunjukkan tindakan yang berlawanan arah dengan anggapan negatif yang ditujukan kepada mereka. Maksudnya, sulit menemukan anak yang mampu membuktikan dirinya tidak bodoh meskipun dikatakan bodoh.
4. Karena anak dapat/ bisa saja mempercayai atau menyetujui perkataan ‘kamu bodoh’ yang disematkan pendidik kepadanya. Sepanjang pertumbuhan dan perkembangannya, bahkan mungkin sepanjang hidupnya ia akan menganggap dirinya bodoh.
5. Karena maksud kehadiran orang tua dalam kehidupan anak tidaklah untuk menyematkan label ‘bodoh’ kepada anak. Orang tua hadir dengan tujuan memberdayakan segala potensi anak yang tentu saja bermacam-macam.
Dampak Mengatakan Anak “Bodoh”
Mengatakan ‘bodoh’ kepada anak merupakan tindakan memberikan label. Label atau labeling adalah memberikan label kepada seseorang sebagai identitas diri orang tersebut dan menjelaskan orang dengan tipikal bagaimanakah dia.
Biasanya, orang yang diberi label akan diperlakukan seperti label yang disematkan kepadanya. Misalnya seorang anak dikatakan ‘bodoh’ maka ia akan diperlakukan seperti orang bodoh. Tindakan yang demikian, entah sadar atau tidak sadar, merupakan penjelasan akurat kepada anak tentang tipikal bagaimanakah dia. Anak cenderung menerima dan menjalani kehidupannya sesuai dengan indetitastersebut yakni identitas orang bodoh.
Pada dasarnya, pemberian label dimaksudkan untuk mengontrol penyimpangan dari harapan namun yang terjadi justru sebaliknya.
Dan kenyataannya memang demikian. Anak yang dikatakan ‘bodoh’ tidak akan menerima tugas-tugas yang bersifat menantang dan memiliki tingkat kesulitan yang tinggi. Dari sudut pandang anak, ia selalu akan merasa tidak mampu menyelesaikan tugas yang menantang dan memiliki tingkat kesulitan yang tinggi karena ia terjebak dalam ungkapan ‘kamu bodoh’ dimana ia juga mengakui hal itu dengan turut mengatakan kepada dirinya sendiri ‘saya bodoh, jadi tidak mungkin saya mampu menyelesaikan tugas-tugas yang sulit dan menantang’. Sementara itu, dari sudut pandang pemberi label (orang tua) enggan memberikan tugas yang menantang dan memiliki tingkat kesulitan yang tinggi karena terjebak dalam pemikiran ‘ah, dia kan bodoh, mana mungkin mampu mengerjakan tugas-tugas seperti ini, percuma saja’. Pada akhirnya, anak yang diberi label ‘bodoh’ tidak mendapat kesempatan untuk berkembang sebab tidak pernah dimotivasi atau diberi dukungan untuk maju. Ia akan tumbuh dan berkembang dalam stigma ‘bodoh’ bahkan bisa jadi akan mengatakan kepada dirinya sendiri ‘saya bodoh’.
Mengatakan ‘bodoh’ kepada anak sama dengan menghancurkan kemampuan berinteraksi mereka. Anak yang dilabeli ‘bodoh’ akan menerima diri mereka sendiri sebagai pribadi yang tidak diinginkan alias ditolak. Anak yang demikian akan merasa diri tidak dihargai, tidak dicintai, cenderung memilih jalan yang mudah, tidak berani mengambil resiko, dan tidak dapat berprestasi, memiliki penghargaan diri yang rendah dan dapat menimbulkan pengaruh negatif bagi lingkungan, baik lingkungan kerja maupun lingkungan pergaulannya.
Tips Mudah dan Sederhana
Berikut ini saya anjurkan beberapa tips Mudah dan sederhana untuk menghindari mengatakan anak bodoh:
1.Berusaha dengan kemampuan maksimal untuk mengetahui tidak hanya tahap demi tahap perkembangan anak tetapi juga kemampuan mereka. Dengan begitu, orang tua akan mengasuh secara tepat.
2.Setiap orang tua perlu mengakui bahwa mengajar anak bukanlah pekerjaan mudah. Sebab yang diajar adalah individu yang berkehendak dan unik. Dengan mengakui hal ini, orang tua akan terus menerus berimprovisasi dalam mengasuh sebagai upaya mengakomodir kemampuan anak.
3.Jangan lupa, setiap anak memiliki kecerdasan sendiri. Karena itu gaya mengasuhnya pun tentu tidak sama.
4.Perlu diingat, mengatakan ‘bodoh’ kepada anak tidak merubah apa-apa, kecuali memperburuk keadaan.
5.Emosi perlu dikontrol.
6.Jika kesabaran hampir habis, cobalah untuk tenang dengan cara menarik diri dari kegiatan belajar bersama anak.
Demikian tentang akibat dan bahayanya jika sering mengatakan anak bodoh, semoga artikel ini bermanfaat, terimakasih, semoga sukses selalu.
INILAH AKIBATNYA BILA SERING MENGATAI ANAK BODOH
Jika anak banyak dimusuhi, ia akan terbiasa menantang
Jika anak dihantui ketakutan, ia akan terbiasa merasa cemas
Jika anak banyak dikasihani, ia akan terbiasa meratapi nasibnya
Jika anak dikelilingi olok-olok, ia akan terbiasa menjadi pemalu
Jika anak dikitari rasa iri, ia akan terbiasa merasa bersalah.
Jika anak serba dimengerti, ia akan terbiasa menjadi penyabar
Jika anak banyak diberi dorongan, ia akan terbiasa percaya diri
Jika anak banyak dipuji, ia akan terbiasa menghargai
Jika anak diterima oleh lingkungannya, ia akan terbiasa menyayangi
Jika anak diperlakukan dengan jujur, dia akan terbiasa melihat kebenaran
Jika anak ditimang tanpa berat sebelah, ia akan terbiasa melihat keadilan
Jika anak dikerumuni keramahan, ia akan terbiasa berpendirian.
“Sungguh Indah Dunia Ini!”
ANAK BELAJAR DARI KEHIDUPANNYA - DOROTHY LAW NOLTE
PAUD-Anak Bermainbelajar-Blog---5 Gaya Parenting *(Parenting Styles) saat Dampingi Anak Usia dini Belajar Bermain Di rumah.
Walaupun ada dukungan lembaga-lmbaga PAUD Dengan sistem pembelajaran yang baru sekarang ini, Tetapi Juga memerlukan pelibatan orang tua dalam proses belajar anak, tentunya membutuhkan peran Ayah dan Bunda untuk mendampingi proses pembelajaran Anak Usia dini kita. Namun, mendampingi anak belajar di rumah tentunya memiliki banyak tantangan. Dalam hal ini, penerapan parenting styles yang tepat adalah kuncinya. Salah satunya adalah perubahan kebiasaan dan keseharian Si Anak.
Di masa sekarang ini, Anak Usia dini sedang menghadapi tantangan ekstra karena sekarang ini ia kembali dihadapkan dengan perubahan rutinitas yang cukup besar. Agar Bunda dapat memastikan pembelajaran Si Buah Hati dari sekolah dan rumah berjalan dengan sempurna, Bunda dapat menerapkan macam-macam parenting style dan mengevaluasi beberapa hal di rumah untuk menciptakan Suasana Bermain-belajar yang menyenangkan.
Ragam Parenting Style untuk Mendidik Anak Usia dini
![]() |
| Parenting Style |
Parenting Style:
1. Sesuaikan Rutinitas Anak Usia dini dengan Aktivitasnya di Sekolah
Pola asuh anak yang bisa dilakukan adalah Bunda perlu menyesesuaikan jam pembelajaran Anak Usia dini di rumah dengan jam pembelajaran di sekolah, begitu juga dengan jam istirahatnya. Trik parenting style ini dilakukan supaya Anak Usia dini terbiasa disiplin dan teratur. Ayah-Bunda bisa membuat jadwal harus dipatuhi oleh Anak Usia dini, dimulai dari jadwal bangun tidur, mandi pagi dan sarapan yang teratur.
2. Tanyakan Kebutuhan Anak Usia dini, dan Komunikasikan dengan Pihak Sekolah
Salah satu parenting styles yang bisa diterapkan adalah bertanya kepada Si Buah Hati apakah ia mengalami kesulitan ketika ia belajar. Diskusikan setiap materi yang menurutnya sulit dan Bunda bisa membantunya untuk menyelesaikan tugas tersebut tanpa langsung memberikan jawaban.
Selain itu menerapkan pola asuh anak, Bunda juga bisa langsung berkomunikasi lewat guru yang mengajar. Tanyakan bagaimana cara guru mengajar di sekolah, supaya Bunda tidak memberikan penjelasan yang berbeda kepada Anak Usia dini dan membuatnya bingung. Konsultasikan juga dengan guru kelas bagaimana Bunda dapat membantu Si Buah Hati dalam menghadapi rintangannya.
Baca Juga Pengertian dan Jenis-jenis Program Parenting
3. Hindari Pemicu Stres
Tak hanya orang dewasa yang bisa mengalami stres, anak-anak juga bisa mengalaminya. Stres biasanya muncul sebagai respon terhadap perubahan negatif yang terjadi. Anak Usia dinisebenarnya memiliki cara tersendiri untuk mengatasi stres, tapi ada baiknya Bunda membantunya terhindari dari faktor-faktor pemicu stres, seperti merasa kesulitan saat belajar, punya pikiran negatif tentang diri-sendiri, merasa tidak aman di rumah, atau mengalami perundungan oleh teman-temannya.
Apabila Si Buah Hati terlihat menghadapi kesulitan, ajak ia beristirahat sejenak agar Si Anak tidak jatuh stres. Dengan banyaknya perubahan yang dihadapi, Bunda harus memberikan perhatian ekstra untuk memastikan kenyamanan Si Buah Hati ketika belajar. Ajak Si Buah Hati melakukan kegiatan yang positif dan menyenangkan saat ia merasa kesulitan.
4. Membatasi Screen Time
Screen time atau jumlah waktu Si Anak menggunakan gawai berlayar memang sebaiknya dibatasi, Bunda. Jika pada anak usia dini screen time yang disarankan hanya satu jam sehari, maka untuk anak usia sekolah, metode parenting Bunda bisa menyesuaikan penggunaannya sesuai dengan kebutuhan. Tentu saja, utamakan penggunaannya untuk mengakses program-program yang edukatif dan dibutuhkan untuk mendukung pembelajarannya.
Jika Si Buah Hati terlalu banyak menggunakan gawai berlayar, apalagi untuk mengakses atau menonton program-program yang kurang berkualitas, maka waktu belajarnya malah menjadi berkurang. Ia juga berpotensi mengalami obesitas, kurang tidur, tingkah laku yang bermasalah, perkembangan bahasa dan sosialnya terhambat, dan bermasalah dalam memberi perhatian.
5. Eksplorasi di Luar Ruang (Out Door)
Belajar tak harus selalu di dalam ruangan, Si Anak juga bisa melakukannya di luar ruang. Apalagi di luar ruang, ia punya kesempatan untuk mengeksplorasi dan memberi pengalaman sensori yang penting bagi tumbuh-kembangnya. Selain itu, berada di luar ruang dan berdekatan dengan alam akan membantunya merasa relaks dan tenang. Dengan demikian, proses belajarnya juga lebih optimal.
Selain belajar, ajak juga Si Buah Hati untuk bermain di luar rumah sebagai bentuk parenting styles. Anak-anak usia sekolah biasanya senang berkreasi dengan benda-benda yang mereka temukan di luar rumah, main kejar-kejaran, atau memanjat pohon. Ingatlah Bunda, bahwa bagi anak-anak, bermain juga merupakan cara mereka untuk belajar secara tidak langsung. Karena itu, biarkan mereka bermain di luar rumah selama dilakukan dengan aman.
Baca Juga : Parenting : Prinsip, dan Tips yang Perlu Diketahui
Demikian 5 Parenting Style untuk mendidik buah hati di rumah sesuai dengan konsep PAUD Anak Bermain Belajar, Semoga bermanfaat ya Ayah-Bunda, sukses selalu.
Akhmad Solihin 10.04.00 PAUD Anakbermainbelajar Indonesia
Inilah 5 Gaya Penting Parenting untuk Mendampingi Anak Di rumah
PAUD-Anakbermainbelajar----Seyogyanya Pendidikan Anak Usia Dini, diarahkan untuk membentuk anak yang berkembang dengan baik sesuai standar perkembangan anak. Anak diharapkan memiliki perkembangan kecerdasan Intelektual dan emosional dengan mental dan spritual yang baik, hingga mampu beradaptasi sesuai dengan lingkungan sosialnya. Tetapi kadang kita menemukan ada anak yang sejak kecil lebih senang menyendiri dari pada bermain bersama teman-temannya. Pada kasus dimana anak memiliki watak cenderung pemalu, kecendrungan untuk menyendiri akan lebih besar dibandingkan dengan teman-teman seusianya.
Berdasarkan hasil pengamatan para ahli praktisi perkembangan anak, tipe anak dalam kategori karakter seperti ini sebenarnya sangat ingin bergaul dengan orang lain, tetapi dia merasa takut berteman dengan teman-teman yang lebih aktif dan cenderung liar menurut dia. Akhirnya dia memilih untuk bermain sendiri.
Pada anak usia dini yang kurang mampu bersosialisasi dalam proses tumbuh-kembangnya juga merasa lebih senang menyendiri. Jika kemampuan besosialisasi anak menurun secara alamiah, anak memiliki kecendrungan autisme.
Kemampuan bersosialisasi anak juga akan berkurang secara tidak alamiah karena kurang dukungan dari orangtua atau bisa juga karena Pendidikan dan pola Asuh di lembaga PAUD Tertentu yang telah merusak kerja otak anak secara berlebihan, sehingga dia kekurangan rangsangan sosial.
Pada kasus anak yang lebih senang menyendiri, sangat besar kemungkinan dia akan mengalami kecanduan perangkat digital (gedget). Hal ini terjadi karena dia menganggap perangkat digital seperti komputer dan smartphone sebagai teman terbaiknya. Anak juga akan semakin sering menyendiri jika mengalami kecanduan perangkat digital ini. Dalam kasus yang lebih parah, anak bahkan tidak keluar rumah sama sekali dan tidak mau bergaul dengan orang lain.
Jadi, jika kita melihat anak lebih senang menyendiri, maka sebaiknya kita membantunya dengan cara-cara yang positif. Jika anak cenderung pemalu, sangat penting agar kita menghargai upayanya untuk berteman dengan teman-teman yang cocok dengannya dan juga menyemangati anak dengan lembut dari pada mengomelinya. Pada kasus anak yang pemalu, kemampuan bersosialisasinya akan berkembang jika dia merasa aman dengan lingkungannya dan bisa bermain secara aktif dengan teman-temannya.
Dalam kasus kurangnya kemampuan bersosialisasi pada anak akibat pola pengasuhan anak yang tidak sesuai, kita harus lebih memperhatikan kekurangan waktu kita bersamanya. Berikanlah waktu kebersamaan keluarga yang berkualitas pada anak. Sangat efektif jika kita meluangkan waktu bersama anak di rumah dengan memasak bersama atau jalan-jalan ke suatu tempat di dekat rumah dan mengobrol empat mata dengannya.
Kita harus memulihkan gejala anak penyendiri melalui perawatan yang aktif sejak kecil pada anak yang kemampuan bersosialisasinya kurang secara alamiah, atau dengan kata lain, memiliki kecendrungan autisme. Selain itu, kita harus lebih menjauhkan anak dari kecendrungan autisme akibat penggunaan perangkat digital. Anak ini memiliki gejala kecanduan yang ekstrim pada beberapa jenis stimulus yang disukainya. Jika perangkat digital termasuk di antaranya, akan sangat sulit bagi kita untuk memutusnya dari pengaruh perangkat itu.
Oleh karena itu, disarankan agar kita memperkenalkan gedget selambat mungkin pada anak yang memiliki kecendrungan autisme. dan yang paling penting agar anak mendapatkan perhatian dan bantuan berkualitas dari orangtua dan kepedulian pihak lembaga dan sekolah dimana anak mengikuti program PAUD tersebut. Dengan kepedulian dan perhatian dari lingkungan sosial dan keluarganya diharapkan anak lebih memilih keluarga dan teman-teman di sekitarnya sebagai sahabat, dari pada perangkat digital Gedget yang berbahaya untuk perkembangan mentalnya.
Demikian tentang penyebab anak PAUD senang menyendiri dan cara mengatasinya, semoga artikel singkat ini bermanfaat, terimakasih sudah berkunjung kembali di blog PAUD-Anakbermainbelajar ini, semoga sukses selalu. Wassalam.
Sumber Gambar : Pixabay.com
Artikel ini telah tayang di Blog PAUD-Anakbermainbelajar dengan judul "Inilah Penyebab Anak PAUD Senang Menyendiri dan Cara Mengatasinya",. Klik Link untuk baca: https://paud-anakbermainbelajar.blogspot.com/2021/04/inilah-penyebab-anak-paud-senang.html.
Akhmad Solihin 10.22.00 PAUD Anakbermainbelajar Indonesia
INILAH PENYEBAB ANAK PAUD SENANG MENYENDIRI DAN CARA MENGATASINYA
PAUD-Anakbermainbelajar----Bunda-ayah dan guru pendidik PAUD sekalian, kita menemukan tingkah sikecil yang terkadang membuat kita kesal, berbagai polahnya yang kita anggap sebagai perilaku yang aneh yang tampak tidak wajar. Tetapi sebenarnya perilaku sikecil itu adalah hal yang wajar diusia mereka, anak tidak ada dan tidak pernah melakukan kejahatan atau hal yang tidak baik. Semua yang mereka lakukan yang menurut kita menyebalkan adalah batasan kemampuan mereka untuk berpikir, bersikap, dan bertindak sebagai manusia yang baru saja menjalani kehidupan ini, serta mencari jalan untuk berkembang.
Kita terkadang lupa pada siapa anak kita sesungguhnya, terkadang kita melihat anak-anak kita sebagai orang dewasa ditubuh anak-anak. Padahal sesungguhnya mereka adalah anak-anak kecil yang sedang berkembang sesuai tahapan dimana usia mereka berada.
Berikut ini adalah contoh dibalik perilaku atau "tingkah" sikecil kita terlihat menyebalkan, tetapi sebenarnya harus kita renungkan sebelum kembali menyalahkan sikecil kita :
1. Anak "NEMPEL" terus
Kalu didekat ayah dan ibu, aku merasa nyaman banget.
2. Anak rewel saat ketemu ibu
Cuma sama ibu, aku bisa menumpahkan perasaan ini.
3. Anak Teriak "BERULAH" Berulang Kali
Lihat aku, aku butuh perhatian Ayah ibu
4. Anak Tantrum Gak Berhenti Menangis
Aku nggak tau perasaan apa ini, tolong tenangkan aku.
5. Anak Melakukan Hal yang Kita Larang
Kenapa tidak boleh? Aku cuma ingin tahu.
6. Anak Tidak Merespon Saat Dipanggil
Aku sedang fokus. Aku juga pernah melihat Ayah Ibu begini saat aku panggil.
7. Anak Bertanya Terus
Banyak pertanyaan dikepalaku aku yakin Ayah Ibu paling tahu jawabannya.
Demikian tentang maksud sikecil yang tulus dibalik perilaku atau tingkahnya yang menyebalkn, semoga bermanfaat sebagai bahan renungan kita bersama, dalam rangka mendidik dan membimbing anak-anak kita, sesuai dengan perkembangan usianya. Terimakasih sudah berkunjung kembali di blog PAUD-Anakbermainbelajar ini. Semoga sukses selalu.
Sumber : Copy-copyan Facebook.














