KELEBIHAN DAN KEKURANGAN MASING-MASING TEKNIK EVALUASI OBSERVASI

Rabu, 28 Oktober 2015

PAUD-Anakbermainbelajar-----Evaluasi sebagai salah satu komponen utama pembelajaran, termasuk pembelajaran di PAUD. Evaluasi merupakan proses pengumpulan penganalisisan, dan penafsiran data yang sistematis dalam rangka pemberian keputusan terhadah sesuatu (Wortham, 2001). Berarti, dengan evaluasi guru perlu mengumpulkan data, menganalisis, dan menafsirkan makna data yang ada sebagai bahan pengambilan keputusan. Keputusan yang diberikan merupakan nilai, yang dapat berbentuk angka atau huruf. Bentuk huruf yang paling sering digunakan adalah deskripsi, atau penjelasan.

     Evaluasi bertujuan untuk mengetahui proses kegiatan yang telah dilaksanakn, faktor-faktor penghambat maupun pendukung pencapaian tujuan kegiatan, serta mengetahui tingkat keberhasilan. Tujuan tersebut perlu untuk memperbaiki kegiatan belajar sekaligus memperbaiki keberhasilan belajar.

     Hasil evaluasi disajikan sebagai bentuk laporan evaluasi. Laporan tersebut disampaikan kepada orang tua dan kepala sekolah sebagai bentuk pertanggunjawaban (akuntabilitas) guru terhadap kegiatan yang dilakukannya (Wortham, 2001). Bagi orang tua hal tersebut untuk kesinambungan program bagi kepala sekolah untuk perbaikan program belajar.

     Ada beberapa strategi dan metode dalam pelaksanaan evaluasi. Secara umum ada dua kelompok, yaitu tes dan non tes. Kelompok non tes terdiri dari angket, wawancara, dan observasi. Bila dilihat dari pelaksanaannya, evaluasi dikenal dengan evaluasi proses dan evaluasi hasil. Evaluasi proses dilakukan bila guru ingin mengetahui bagaimana anak mengikuti atau melakukan kegiatan selama pembelajaran beralangsun. Bila guru ingin melihat hasil kegiatan guru dapat menggunakan evaluasi hasil. Untuk menentukan strategi dan metode mana yang tepat guru perlu mengetahui tujuan evaluasi. Untuk mencatat dan mengevaluasi perkembangan anak usia dini, langkah pertama dan utama yang dapat dilakukan adalah melakukan observasi langsung kepada anak. Dengan melakukan observasi ini maka kita akan dapat melihat dan mengetahui tahap perkembangan anak dan hasilnya dimasukan dalam suatu pencatatan. Untuk menetukan strategi evaluasi yang cocok seseorang harus mengetahui mengapa evaluasi dilaksanakan (Brinkerhoff, 1983: 16). Strategi dan metode observasi dapat dilakukan dengan berbagai bentuk pencatatan. Secara rinci pencatatan observasi yang dapat digunakan guru dikemukakan berikut ini.


Teknik Pengamatan


     Salah satu upaya untuk memahami tumbuh kembang anak usia dini diantaranya melalui pengamatan. Oleh karena itu kemampuan pengamatan bagi seorang pendidik anak usia dini merupakan suatu kompetensi yang harus dimiliki.

     Setiap pengamatan harus dilakukan dengan pencatatan. Pengamat bukan hanya sekedar mengamati anak untuk mengetahui kegiatan apa saja yang dilakukan anak, tetapi pengamat juga perlu sensitif terhadap apa-apa yang dilihat, didengar, dirasakan, dicium, atau diraba. Selama melakukan pengamatan dan pencatatan. Berikut ini akan dijelaskan beberapa metode pengamatan dan pencatatan anak usia dini.

     Adapun metode dan teknik pengamatan pada anak usia dini yang kita ulas dalam pembahasan ini meliputi teknik anekdotal (Anecdotal Record), catatan berjalan (Running Record), catatan specimen (Specimen Record), Time Sampling dan Even Sampling.


1. Catatan Anekdot (Anecdotal Record)

     Catatan anekdot adalah tulisan naratif singkat yang menjelaskan suatu peristiwa tentang perilaku anak yang penting bagi perkembangan anak dan pengamat. Catatan anekdot menjelaskan sesuatu yang tejadi secara faktual, dengan cara yang obyektif, menceritakan bagaimana, kapan dan dimana terjadi peristiwa itu, apa yang dikatakan dan dikerjakan anak. Kadang-kadang guru memasukan alasan-alasan tes terhadap perilaku anak, tetapi "mengapa" lebi baik ditulis di bagian khusus sebagai komentar guru.Catatan ini paling sering ditulis setelah peristiwa terjadi.

     Meskipun catatan anekdot merupakan catatan singkat tentang suatu kejadian dalam suatu saat tertentu, namun catatan tersebut bersifat kumulatif. Jika rangkaian peristiwa itu berjalan berulang-ulang dapat digunakan sebagai masukan yang rinci tentang anak yang diamati. Keuntungan lain menggunanak catatan anekdot adalah: 

a. Pengamata bersifat terbuk. Pengamat dapat mencatat apa saja tentang apa yang dilihatnya tanpa dibatasi hanya pada satu macam perilaku khusus.

b. Pengamat dapat menangkap hal-hal yang tak terduga pada saat kejadian, pencatatan dilakukan nanti setelah pembelajaran usai, sehingga tidak mengganggu aktivitas guru.

c. Pengamat dapat melihat dan mencatat tingkah laku khusus dan mengabaikan perilaku yang lain.

     Sebagai metode pengamatan, tentu selalin keuntungan juga ada kerugiannya. Pengamat perlu memutuskan apa yang diamati, apa yang ingin diketahui, dan metode apa yang paling berguna. Beberapa kerugian catatan anekdot adalah :

a. Catatan anekdot tidak memberikan gambaran yang lengkap karena hanya mencatat peristiwa-peristiwa yang menarik pengamat.

b. Tergantung pada daya ingat pengamat. Peristiwa yang terjadi kadang tidak tertulis secara rinci, karena pencatatan dilakukan setelah pembelajaran selesai.

c. Kejadian bisa saja keluar dari konteks dan kemudian diinterpretasikan tidak dengan benar atau digunakan dengan cara yang biasa.

d. Sulit untuk memberikan analisa naratif, karena itu metode ini kurang berguna untuk penulisan ilmiah.

Catatan semacam ini dapat lebih berguna jika dicatat di kertas secara vertikal dengan catatan anekdot di sebelah kiri dan ada lahan untuk menuliskan komentar di sebelah kanan, atau kertas dibagi secara mendatar, dengan catatan anekdot di atas dan komentar di bawahnya.

Baca juga cara evaluasi dengan catatan anekdot di sini !!

Contoh Format catatan anekdot


2. Catatan Berjalan (Running Record)

     Metode pengamatan dengan teknik pencatatan lain yang cukup terkenal adalah Running Records. Catatan ini memuat kejadian secara rinci dengan berurutan. Pengamat mencatat semua kejadian terus menerus yang dilakukan anak itu. Running Records berbeda dengan catatan anekdot karena Running Record mencatat semua perilaku anak bukan hanya sekedar peristiwa-peristiwa tertentu saja, dan pencatatan dilakukan langsung, tidak menunda kemudian setelah pembelajaran selesai.

     Sebagai catatan yang faktual, pengamat harus berhati-hati untuk tidak menggunakan kata-kata diskriminatif atau memvonis anak. Catatan yang ditulis mencerminkan apa yang diamati tanpa memberikan asumsi. Keuntungan dari running record adalah :

a. Merupakan catatan yang lengkap dan menyeluruh, tidak terbatas pada peristiwa-peristiwa tertentu.

b. Merupakan catatan yang terbuka, yang dapat untuk mengamati apa saja tanpa spesifikasi pada perilaku khusus

c. Tidak membutuhkankan pengamat yang memiliki keterampilan khusus, karena itu sangat berguna bagi guru kelas.

     Selain kelebihan seperti yang diungkapkan di atas, Running Record juga memiliki kerugian, yaitu:

a. Catatan ini memerlukan waktu yang cukup lama. Pengamat tidak memuiliki waktulain selain hanya mengamati dan mencatat perilaku anak saja.

b. Cukup sulit untuk mencatat semua hal dalam waktu yang panjang tanpa kehilangan rincian yang mungkin juga penting.

c. Sangat efektif jika mengamati seorang anak, tetapi jika harus melakukan pengamatan terhadap kelompok anak, apalagi jika kelompok besar, maka akan mengalami banyak kesulitan

d. Pengamat harus menjaga diri anak, yang kadang-kadang sulit jika pengamat adalah guru yang sedang mengajar.

     Runing record lebih berguna jika dicatat dalam format khusus yang dikomentari oleh pengamat kemudian. Sangat sulit bagi pengamat untuk mencatat setiap katan yang diucapkan anak dan setiap adegan yang dilakukan anak saat bermain bersama.


---Contoh format running record :----


     Karena running recor mengamati terlalu banyak perilaku perkembangan yang penting dari seorang anak, maka running record dipilih sebagai metode utama yang digunakan bersama dengan Child Skills Checklist untuk menilai perkembangan anak. Kadang Checklist dikombinasi dengan running record.


3. Catatan Specimen (Specimen Records)

      Specimen Records hampir mirip dengan running record tetapi lebih rinci. Catatan ini seriang digunakan oleh peneliti yang menginginkan deskripsi lengkap dari suatu perilaku anak, sementara running record lebih sering dipakai oleh guru dengan cara yang tidak formal. Pengamat yang membuat specimen records bukan orang yang terlibat dalam kegiatan kelas dan harus menjaga jarak dari anak.

     Seperti runnig records, specimen records menulis secara naratif perilaku atau peristiwa saat terjadi, tetapi deskripsi itu biasanya berdasarkan kriteria yag telah ditentukan sebelumnya seperti waktu, anak, dan settingnya. Jumlah kerinciannya yang akan dicatat tergantung pada tujuan pengamatan.

     Pengamatan yang diikuti dengan catatan anekdot, running records ataupun specimen records, bukanlah kegiatan yang mudah. pengamat terbiasa mengamati apa yang terjadi di sekelilingnnya dalam waktu yang bersamaan membuat interpretasi tentang apa yang dilihatnya. Di dalam pencatatan yang obyaktif, kita harus memisahkan dua hal tersebut. Apa yang dicatat harus berupa fakta yang ada, tanpa melakukan penilaian (labelling), asumsi, atau kesimpulan.

     Berikut ini merupakan contoh kata-kata dan kalimat labelling yang sering dijumpai dalam catatan pengamatan:

- Dia anak yang baik hati

- Dimas marah kepada Dini

- Dia berteriak dengan marah

- Dia menunjukan kekuatannya

- Dia kehilangan kesabaran

- Dia menjadi marah

- Seharusnya dia tidak berbicara seperti itu.

     Kesalahan pengamat yang lain adalah menghilangkan beberapa fakta, mencatat hal-hal yang tidak terjadi dan mencatat hal-hal yang tidak pada urutan yang benar.

Berikut ini beberapa pedoman dalam melakukan pencatatan

a. Catat fakta-fakta saja

b. Catat segala sesuatu secara rinci tanpa menghilangkan apapun

c. Jangan menginterpretasikan selama melakukan pengamatan

d. Jangan mencatat apapun yang tidak kita lihat

e. Gunakan kata-kata deskriptif bukan labeling atau interpretasi

f. Catat fakta-fakta yang terjadi sesuai dengan urutan kejadiannya.


4. Time Sampling

     Metode Time Sampling memerlukan pengamatan yang menunjukan kekerapan suatu perilaku terjadi. Perilaku harus terjadi sering (paling sedikit sekali dalam setiap 15 menit). Misalnya: perilaku semacam berbicara, memukul atau menangis dapat diamati dan dihitung dengan mudah. Perilaku memecahkan masalah tidak dapat diamati menggunakan metode ini, karena perilaku seperti itu tidak jelas bagi pengamat dan tidak dapat dihitung dengan mudah.

     Time Sampling dilakukan untuk mengamati perilaku khusus dari seorang anak atau kelompok dan mencatat ada atau tidaknya perilaku tersebut dalam interval waktu yang sudah ditentukan untuk diamati. Pengamat harus mempersiapkan diri untuk memanfaatkan waktu yang terlah terjadwal, dan menentukan jenis perilaku yang akan diamati, interval waktu yang digunakan, dan bagaimana ia mencatat waktu ada atau tidaknya adanya perilaku tersebut. Sebagai contoh : dalam rangka menolong anak agresif "Gibran", guru ingin tahu berapa kali Gibran berperilaku negatif. Pertama, perilaku agresif Gibran harus ditentukan secara jelas meliputi apa saja. Misalnya memukul, mendorong, menendang, memegang temana yang melawannya, merebut mainan teman.

     Perilaku tersebut dapat dituliskan dengan kode misalnya memukul (p), mendorong (d), merebut (r), dsb. Berikut yang perlu dipersiapka adalah interval waktu. Jika pengamatan akan dilakukan selama setengah jam, boleh saja menentukan setiap 5 menit perilaku agresif anak diamati. Selanjutnya harus memikirkan cara pencatatan. Boleh saja menuliskan 1 jika perilaku tersebut terjadi, dan 0 jika tidak terjadi. Bisa juga meletakan tanda V (contreng) pada kolom setiap munculnya perilaku agresif tersebut.


---contoh format Time Sampling----


Time sampling merupakan metode yang sangat berguna jika digunakan untuk mengamati anak dengan alasan-alasan berikut :

a. Membutuhkan waktu dan usaha yang tidak terlalu banyak dibandingkan catatan narasi

b. Lebih obyektif dan terkontrol karena perilaku yang diamati spesifik dan dibatasi

c. Memungkinkan pengamat mengumpulkan data dari sejumlah anak ataupun sejumlah perilaku dalam satu kali waktu pengamatan

d. Memberikan informasi yang berguna dalam interval waktu dan frekuensi dari perilaku tertentu

e. Memberikan hasil kuantitatif yang berguna untuk analisis statistik


Ada beberapa kelemahan dan kerugian dari metode ini, yaitu :

a. Metode bukan metode terbuka, sehingga memungkinkan kehilangan banyak perilaku yang penting

b. Tidak menjelaskan perilaku, sebab dan hasil, karena lebih fokus pada waktu (kapan dan berapa lama suatu perilaku terjadi)

c. Tidak menyimpan data tentang masukan-masukan perilaku, karena prinsip metode ini hanya pada interval waktu, bukan perilaku.

d. Perilaku diluar konteks karena itu mungkin bisa bias.

e. Terbatas untuk perilaku yang diamati yang sering terjadi

f. Biasanya befokus pada satu jenis perilaku (dalam kasus ini perilaku negatif dan bisa mengakibatkan pandangan yang bias.


5. Even Sampling

     Even sampling adalah suatu metode yang memberikan kesempatan kepada pengamat untuk menunggu dan kemudian mencatat perilaku khusus yang sudah dipilih lebih dulu. Even sampling digunakan untuk mempelajari kondisi dimana perilaku tertentu terjadi atau sering terjadi. Penting untuk mempelajari pencetus suatu perilaku tertentu dari anak - memukul, misalnya mungkin bagi anak usia 2 tahun memukul sebagai tanda dia ingin mengajak temannya bermain. Jika time sampling digunakan untuk mengamati perilaku anak dalam interval waktu tertentu, sebaiknya even sampling untuk mengamati perilaku yang sering terjadi.

     Pengamat terlebih dahulu perlu menentukan perilaku yang ingin diamati, kemudian mempersiapkan setting yang memungkinkan perilaku itu muncul dan akan digunakan untuk mengamati perilaku tersebut. Pengamat perlu menunggu sampai muncul perlaku tersebut dan mencatatnya.

     Pencatatan dapat dilakukan dengan berbagai cara, tergantung dari tujuan pengamatan. Jika pengamat sedang memperlajari penyebab atau hasil dari perilaku tertentu, maka menggunakan "ABC" analisis (Bell dan Low). ABC analisi merupakan deskripsi naratif dan peristiwa keseluruhan, yang dibagi menjadi 3 bagian yaitu : 

A = Perilaku pencetus,

B = perilaku

C = konsekuensi.

Setiap saat peristiwa terjadi, saat itu juga dicatat.


---Contoh format Even Sampling---


Adapun keuntungan menggunakan even samping adalah :

a. Mencatat peristiwa dengan utuh, sehingga analisa lebih mudah.

b. Lebih obyektif dibandingkan metode yang lain, karena perilaku telah ditentukan sebelumnya

c. Sangat menolong untuk menguji perilaku yang tidak sering terjadi.


Beberapa kerugian dari metode Even sampling ini juga ada, tergantung pada tujuan pengamatan, yaitu :

a. peristiwa keluar dari konteks dan bisa kehilangan beberapa peristiwa yang penting untuk diinterpretasikan

b. Merupakan metode tertutup yang hanya mengamati perilaku tertentu dan mengabaikan perilaku yang lain

c. Kehilangan kekayaan informasi detail dibandingkan catatan anekdot, specimen record atau running records.


     Sebagai pengamat, amatilah anak dengan cara yang tidak terlalu menyolok dengan posisi yang tidak terlalu dekat dengan anak. Kita boleh mengambil mengambil sambil duduk, berdiri atau berjalan disekitar area pengamatan. Apapun yang kita pergunakan untuk dekat dengan anak untuk tujuan pengamatan jangan sampai menarik perhatian anak. Hindari kontak mata denga nak yang kita amati, bila anak yang diamati melihat kepada kita sewaktu pengamatan berlangsung, berusahalah untuk menghindari tatapannya dengan mengalihkan penglihatan ke anak lain.

     Sebaiknya kita melakukan pengamatan, terkadang anak juga mengetahui bahwa ia sedang diamati. Kalau anak tahu bahwa kita sedang mengamatinya, anak akan merasa tidak enak dan bisa pergi atau keluar dari area bermain. Kalau hal ini terjadi maka pengamatan harus dihentikan. Pengamatan dapat dilanjutkan besok hari atau minta staf lain untuk mengamati anak khusus itu.

     Kapan waktu yang tepat untuk melakukan pengamatan? Waktu yang tepat untuk melakukan pengamatan adalah kapanpun ada waktu dan kesempatan. Kita harus tahu pentingnya data apa yang akan kita peroleh dalam pengamatan, oleh karena itu kita harus meluangkan waktu yang baik untuk melakukan pengamatan. Waktu pengamatan yang terbaik itu adalah bergantung pada apa yang kita mau ketahui atau pelajari dari seorang anak. 


Referensi :

Barbara Seuling, 2005, How To Write a Children's Book and Get It Published Third Edition.

Breekamp, Sue (Editor), DAP in Early Childhood Programs Serving Children from Birth Through Age 8, Washington DC : NAEYC

Sue C. WWortham, 2001, Assessment in Early Childhood Education Third Edition, Columbus, Ohio, New Jerey: Upper Saddle River


Sumber : Modul Buku 6 Seri Bahan Ajar Diklat Berjenjang Tingkat Dasar (Pembelajaran Anak Usia Dini yang Menyenangkan Melalui Bermain) Dirjen PAUD, Nonformal dan Informal Tahun 2013.



15.20.00

0 komentar: