TIPS MELATIH ANAK YANG MENULIS DENGAN TANGAN KIRI (KIDAL)
PENDIDIKAN ANAK USIA DINI (PAUD) DI MASA PANDEMI COVID-19 BAG I
PENDIDIKAN YANG INTENSIF DEMI PERKEMBANGAN ANAK PAUD
Hal ini dipertegas oleh Erlinda, Sekretaris Jenderal Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) melalui perbincangan telepon dengan Mommies Daily. “Bahwa KPAI mendukung pemblokiran sejumlah games oleh Kemendikbud dan Kemenkominfo, dalam rangka menyelamatkan anak-anak Indonesia, karena games tersebut mengandung kekerasan dan pornografi. Ada 22 games yang masuk daftar diblokir, 15 di antaranya sudah diblokir – 7 lainnya dalam proses,” jelas Erliandi.
Berikut ini daftar 15 games online yang resmi diblokir oleh Kemendikbud dan Kemenkominfo:
- Grand Theft Auto (GTA)
- Mortal Combat
- Point Blank
- Counter Strike
- World of Warcraft
- Call of Duty
- Cross Fire
- War Rock
- Future Cop
- Carmageddon
- Shelshock
- Raising Force
- Atlantica
- Bully
- Conflict of Vietnam
KPAI juga mengingatkan agar anak-anak harus dilindungi dari tayangan dan permainan yang merusak dan berdampak buruk bagi perkembangan anak dari segi intelektual maupun spiritual.
Dampak Buruk Kecanduan Game
1. Perilaku Negatif
2. Tidak Peka Sosial
3. Menganggu Kesehatan
4. Gangguan Emosi
5. Mengalami Obsesi
6. Mendorong Ketidakjujuran
7. Tidak Mampu Mengendalikan Diri
8. Mempengaruhi Otak
Sebagian besar dari daftar game versi Kemendikbud adalah game yang telah lama beredar dan peredaran game memang sedari awal telah memiliki rating game sendiri yang bertujuan untuk membatasi dan juga memberi tahu tingkatan dari jenis game tersebut.
Bila pembatasan game pada anak dilakukan dengan cara pemblokiran yang akan menjadi pertanyaan adalah adanya penggunaan rating pada game yang tidak mempunyai fungsi tersendiri?
Lalu bagaimana dengan sinetron remaja yang saat ini berjejalan di televisi? Adegan perkelahian, gank, percintaan dan berbagai tindakan yang tidak patut ditiru melenggang bebas di televisi yang notabene lebih mudah dilihat oleh anak-anak Indonesia.
Apa yang bisa kita perbuat?
Ke depannya Erlinda mengingatkan, agar semua elemen masyarakat bisa berperan aktif melaporkan games-games yang disinyalir mengandung unsur kekerasan, pornografi atau unsur lainnya yang tidak pantas untuk dikonsumsi oleh anak-anak. Caranya? Mommies bisa memanfaatkan aplikasi Pandawa Care (Perlindungan Anak dan Keluarga Indonesia) – yang saat ini untuk sementara bisa diunduh di Google Play, dan menyusul untuk iOS.
Aplikasi ini tidak hanya untuk pengaduan games-games yang tidak layak konsumsi untuk anak-anak, tapi juga bisa digunakan si anak itu sendiri untuk melaporkan kejadian yang sedang mengancam keselamatan dirinya. Caranya dengan menekan “panic button” yang secara otomatis bisa terhubung dengan nomor-nomor keluarga dari si anak.
Sumber
suryamalang.tribunnews.com/.../video-inilah-daftar-15-game-berbahaya-..
INILAH DAFTAR GAME BERBAHAYA BAGI ANAK PAUD YANG DIBLOKIR PEMERINTAH
TINJAUAN RELIGI TENTANG PENTINGNYA PAUD
(Doroty)
Puisi di atas adalah beberapa contoh adaftasi dan terjemahan puisi dari Dorothy, yang sering penulis temukan diberbagai media masa, dan forum pertemuan, serta bimbingan diklat pendidikan anak. Ada beberapa perbedaan yang ditemukan dalam tulisan tersebut, tetapi sebagian memang hampir sama secara substansialnya yang mengungkapkan interpretasi puisi Dorothi yang mendeskrifsikan tentang kita memperlakukan anak sehingga menjadi anak yang dapat belajar dalam kehidupannya yang lebih baik dikondisikan oleh orang tua disekitarnya.
Berikut ini adalah adaftasi naskah asli dari tulisan Dorothy yang telah direvisi sendiri oleh penulisnya sebelum tutup usia. Seperti kita ketahui Dorothy adalah penulis, penyair dan pencipta karya sastra yang banyak mengangkat tentang khidupan anak dan lingkungannya.
Children Learn What They Live - (Dorothy Law Nolte)
Kalau jawabannya "ya", selamat bergabung bersama 61,5% responden nakita. Padahal, mereka atau mungkin Anda tahu lulusan TK tidak diwajibkan dapat membaca. Toh ini bak buah simalakama. Kalau si kecil tidak diajarkan membaca, menulis dan berhitung (calistung), bisa-bisa ia tidak lolos tes masuk ke SD favorit.
Memang, sih, seperti dikatakan sebuah sumber di SD swasta favorit, tes calistung bukan merupakan pokok dari keseluruhan tes. Meskipun anak belum mampu calistung bukan berarti dia langsung gagal. "Masih banyak penilaian lain yang akan menentukan apakah anak akan diterima atau tidak," ujar salah seorang staf penguji ini. Misalnya, tes motorik halus, kasar, auditori, visual, daya pikir, dan bahasa. "Hanya, bila anak mampu calistung, maka ada nilai tambah yang mungkin akan membuatnya lebih berpeluang untuk diterima. Kalaupun tidak lulus lebih cenderung karena anak tidak bisa diajak komunikasi, pemalu, egonya tinggi, dan kemandiriannya sangat rendah. Lagi pula tes ini dilakukan mengingat banyaknya peminat yang ingin masuk sehingga mau tidak mau harus ada seleksi."
Hal yang sama juga dilakukan oleh salah satu sekolah favorit yang ada di kawasan Depok. Menurut sumber yang merupakan staf litbang di sekolah tersebut, calistung termasuk tes yang diujikan di sekolah ini. Namun, lanjutnya, kemampuan anak dalam calistung tidak menentukan dia akan diterima di sekolah tersebut. Begitu pula sebaliknya. Jika kemampuan calistungnya bagus tapi kemandiriannya sangat kurang, mungkin saja anak tidak lulus. Boleh dibilang, tes ini hanya untuk mengetahui sejauh mana kemampuan anak dalam hal calistung.
Salah satu pengajar SD swasta di Grogol Jakarta Barat pun mengakui tes calistung yang diadakan di sekolah hanya sebagai proses seleksi saja mengingat banyaknya peminat yang ingin masuk. Tentu, seleksi yang dilakukan tidak terlalu formal, tetap memerhatikan sifat anak yang masih ingin bebas dan tidak ingin ditekan.
Terlepas bahwa calistung hanya merupakan salah satu materi tes seleksi SD yang tidak menentukan kelulusan, pada kenyataannya sekolah-sekolah favorit menginginkan murid-murid yang berkompetensi tinggi. Logisnya, kalau bisa menjaring murid yang sudah lancar calistung dasar, untuk apa susah-susah mengajari anak yang kemampuannya lebih rendah?
Lihat saja pelajaran anak-anak kelas 1 SD sekarang. Di minggu-minggu pertama sekolah, mereka langsung dihadapkan pada lembar-lembar padat teks yang menuntut kemampuan membaca. Bayangkan kalau si anak belum mampu dan gurunya menuntut demikian, sudah dapat dipastikan ia bakal merasa tertekan.
Siapa yang salah dalam keadaan ini? Kurikulum Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) di Indonesia yang mencakup kelompok bermain dan taman kanak-kanak sebenarnya tidak mencatumkan pengajaran baca tulis berhitung. Sampai-sampai, Dra. Diah Harianti, M.Psi, Kepala Pusat Bagian Kurikulum Balitbang Depdiknas, menyebut tuntutan calistung di TK dan seleksi masuk SD sebagai "kecurangan". Toh, anjing menggonggong kafilah berlalu. Anak-anak yang sudah mampu calistung mendapat kans lebih besar saat mengikuti tes masuk SD. Inilah bedanya kurikulum dengan kenyataan. Tidak heran kalau kemampuan calistung menjadi target kebanyakan orangtua yang anaknya baru duduk di TK bahkan di playgroup. Alasan mereka, kompetisinya makin ketat, bukan?
Tes seleksi masuk SD pun, kata Diah, amat tidak disarankan karena setiap anak Indonesia wajib bersekolah dan bisa bersekolah di mana pun. Tes masuk hanya untuk mengetahui latar belakang masing-masing murid agar guru dapat memahami kondisi mereka demi tercapainya tujuan pembelajaran kelak. Padahal, di SD-SD favorit berlaku sistem seleksi.
Sayangnya, seperti diakui Diah, tidak ada sanksi untuk pelanggar aturan tersebut. Beberapa SD swasta umpamanya banyak yang sudah menentukan ciri khasnya sendiri. "Pemerintah sebenarnya sudah pernah membuat surat edaran berisi imbauan bahwa tidak boleh ada penyelenggaraan tes masuk SD dan pengajaran baca-tulis di TK. Hanya saja memang tidak ada tindakan berupa sanksi." Alasannya, masing-masing sekolah memiliki hak otonomi, sehingga Depdiknas tidak dapat berbuat banyak. Lo? Jadi, Diah menyerahkan semuanya kembali kepada para orangtua.
Sumber : Disunting dari Majalah Nakita, dengan sedikit perubahan dan penambahan !!.









